Minggu, 02 Maret 2008

Edisi Keenam

ANDHIKA

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)


“Dengan mengucapkan Alhamdulillah hirobbil ‘alamin rapat pembentukan panitia kegiatan Tahun Baru Hijrah ditutup. Demikian kata pembawa acara sewaktu menutup rapat, yang telah berlangsung sejak pagi hingga sore dengan waktu istirahat hanya untuk sholat Zhuhur.
Andika dengan wajah sedikit kusut, setelah pamit dengan kawan-kawan, pulang dengan gontai menuju rumah kost yang belum lunas sewanya. Di perjalanan, terbayang olehnya ketika ia menyatakan kesediannya untuk menjadi ketua panitia.

Ia masih mempertanyakan atas keberaniannya menerima amanah tersebut. Apakah mampu ia untuk mengemban amanah yang terasa berat, ketika ia telah berada di luar ruang rapat.

Kadang timbul rasa optimis namun seketika itu juga rasa pesimisnya juga muncul. Namun sekarang ia tidak mau tahu dengan semua itu.
Hatinya telah bertekad, bahwa ia tidak akan mundur, ia tidak akan menarik kembali pernyataan kesediaannya untuk menjadi ketua panitia. Sukses atau tidak itu urusan nanti, demikian ia menguatkan tekadnya.
Sesampainya di rumah (gubug) hari telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Dan tercium bau kurang sedap dari arah dapur. Ternyata itu adalah bau nasi yang sudah 2 hari tidak ia makan, karena memang tidak ada “teman nasi” untuk dimakan. Dengan sedikit menggerutu ia mengamankan “aib dapur anak kost” tersebut.

Dengan perut yang agak melilit, karena memang belum diisi apapun kecuali secangkir kopi dan asap rokok, ia melangkah ke sumur, membasuh muka

untuk mengambil air wudhu. Terasa segar badannya ketika air suci itu menelusuri pori-pori wajahnya. Rasa hausnya terlepas tatkala ia memasukkan air ke mulut untuk “kumur-kumur” dan ditelannya air suci yang belum dimasak itu.

Sajadah dihamparkannya di ruang kamarnya yang pengap, yang penuh dengan hiasan kaligrafi. Ia pusatkan konsentrasinya kepada Yang Maha Agung, Maha Lembut. Ia coba lupakan panitia, ia lupakan perutnya yang keroncongan. Hanya Dia yang coba ia konsentrasikan.

Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah. Disucikan dirinya dari dosa-dosa yang melekat. Dan dengan tenang dia mengagungkan Sang Pemberi ketenangan dan masuk ke alam yang “asing”; dan dimana dia berada bukan pada dirinya, bukan pada alamnya. Tapi pada alam Allah, pada diri Allah Yang Maha memiliki.

Sejuta rasa ia tumpahkan seluruhnya ke Makkah; kiblat utama insan yang merindukan sesuatu yang “asing”; sesuatu yang selalu dirindukannya. Perasaan rindu, kasih cinta semakin dalam terasa ketika ia merendahkan pusat kesombongannya pada yang paling hina dari ke-Andhika-annya.

Perjalanannya semakin jauh menembus relung-relung kenikmatan rohani, semakin dekat kepada pusat kerinduan. Kerinduan yang menciptakan nikmat tiada tara; kenikmatan nur; kenikmatan cahaya mistis. Batinnya melangkah dengan pasti tanpa ada yang akan mampu menghentikan langkahnya.

Sesekali perutnya menggelapkan kenikmatan “cahaya mistis”, ketika sang usus melilit meminta jatah kerja. Hanya spiritual sucilah yang menghentikannya kebinalan usus itu. Dan ia bersyukur bahwa ia diberi kekuatan spiritual suci, hingga perjalanannya tidak terhenti.

Kemudian diselesaikannya perjalanan “aneh” tersebut. Walaupun ia merasa berat untuk menghentikannya, salam dan syukur yang murni dari hati nurani; itulah yang dapat dilakukannya, atas pemberian perjalanan tersebut. Segala Puji bagi-Mu, ya Allah, Engkaulah tuhanku, tuhan dimana aku dapat mengalami kedalaman hati nurani yang selalu merindukanmu.

···········

Kisah di atas menggambarkan sosok orang yang ingin mengabdikan dirinya pada suatu kegiatan yang membawa manfaat bagi sosial dan religi. Akan tetapi ada kendala ekonomi yang dihadapinya, namun demikian diantara beban ekonomis yang

disandangnya tidak menyurutkan tekadnya untuk memikul tanggung jawab sosial yang diamanahkan kepadanya. Keinginan dan dorongan yang kuat untuk berbuat kebaikan baginya merupakan manifestasi dari imannya kepada Allah SWT, yang telah menganjurkan untuk selalu berlomba-lomba berbuat kebaikan. Selain itu, karena kehidupan di dunia ini hanya sementara, maka tidak ada jalan lain agar ia mendapatkan tempat yang layak di akhirat nanti adalah dengan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dalam bentuk apapun.

Adapun kendala-kendala pribadi yang dihadapinya, seperti kemiskinan, memang menghalangi tekad dan niatnya untuk mengabdi kepada Allah, untuk itu ia selalu menguatkan mental spiritualnya melalui ritual-ritual agama. Ia sangat meyakini bahwa apabila hal tersebut dilakukan maka Allah pasti akan meringankan beban dan memberikan kekuatan mental-spiritual, sebagai bekal utama dalam ia melaksanakan kebaikan. Dalam ritus ibadah yang dilaksanakannya tertuanglah segala asa dan harapan yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Segala.

Dengan kekhusyukan yang dibangun tersebut maka tumbuhlah rasa ikhlas yang menjadi senjata pamungkas baginya untuk menghilangkan beban-beban duniawi yang mengganggu kerja-kerja sosial-religius yang sedang dibangunnya.
Baginya hanya yang seperti inilah yang dapat dipersembahkan kepada Tuhannya. Ia memang tidak banyak tahu tentang ilmu agama tapi bukan berarti tidak dapat berbuat untuk agama. Agama baginya adalah kerja bukan hanya bicara, orientasi hidupnya hanya untuk akhirat yang dilandasi dengan kegiatan (amal-sholeh) selama di dunia.
Yang penting baginya bahwa pengetahuan yang minim dan tekanan ekonomi yang dihadapinya bukan berarti tidak dapat berbuat untuk sosial dan agama, orang itu bernama ANDHIKA.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat




Edisi Kelima

SYAHADAT

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

Setiap manusia yang mengaku Muslim, adalah orang yang selalu tunduk dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Segalanya. Hal ini sesuai dengan kehendak syahadat yang senantiasa kita ikrarkan. Ikrar yang kita ucapkan dalam syahadat mengandung beberapa hal, yaitu:

1. Pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan;

2. Muhammad adalah Rasul Allah

Dari pernyataan syahadat tersebut dapat kita analisa beberapa hal sebagai berikut:
“Bahwa untuk bertuhan yang sejati kita harus membunuh Tuhan-tuhan selain Allah”

Pada zaman awal Islam Tuhan-tuhan palsu berbentuk patung-patung yang disembah yang padanya ditempelkan mitos-mitos kehebatan pada patung tersebut. Pada zaman sekarang Tuhan-tuhan palsu tidak lagi hanya berbentuk patung-patung tapi juga berupa paham (isme) yang diyakini dapat membawa kebahagiaan yang hakiki pada diri manusia.

Paham-paham tersebut menjadi Tuhan, apabila paham tersebut diposisikan sebagai sesuatu yang menggantikan kekuasaan Tuhan yang sejati. Untuk mengetahui paham apa saja yang telah menjadi Tuhan-tuhan palsu,

kita dapat memulainya dengan mendalami tentang Tuhan sejati yaitu Allah SWT.

Pendalaman tentang Allah SWT dapat dimulai dari mengenali sifat-sifatnya. Apabila sifat Allah tersebut telah kita pahami maka kita bandingkan dengan dengan sifat paham-paham yang berkembang sekarang. Perbandingan tentang sifat Allah dan sifat paham-paham tersebut inilah yang kemudian dapat menentukan kepribadian muslim yaitu: kalau si muslim tersebut lebih meyakini sifat Allah SWT dengan mengambilnya sebagai pilihan hidup maka jadilah ia sebagai muslim yang sejati, begitu juga sebaliknya.

Dengan cara ini dapat diukur kualitas kemusliman seseorang. Umpamanya kalau diyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagai Yang Maha pemberi rezeki, maka tidak akan terjadi ada orang dalam memperoleh rezeki dilakukan dengan cara-cara yang dilarang olehNya, seperti, dengan cara mencuri, korupsi, berbohong, sogok menyogok dan sebagainya.

Kalau cara tersebut masih dilakukan maka dapat dikatakan keyakinan terhadap Allah SWT sebagai Maha pemberi rezeki belum dimiliki dengan sempurna, atau dengan kata lain ada keraguan terhadap sifat Allah tersebut, dan lebih meyakini paham yang mengajarkan bahwa untuk memperoleh rezeki boleh dilakukan dengan cara-cara yang tidak halal.

Kejadian seperti ini artinya menciptakan Tuhan-tuhan baru selain Allah. Padahal, sesuai dengan keinginan dan konsekuensi dari syahadat bahwa paham seperti ini harus dibunuh karena telah menjadi Tuhan baru. Selanjutnya, setelah sifat Allah SWT kita ketahui dan yakini, maka langkah selanjutnya adalah pendalaman tentang diri Rasul Allah yaitu Muhammad SAW.

Muhammad SAW harus dijadikan suri tauladan bagi setiap muslim. Menjadikan Muhammad SAW sebagai suri tauladan dapat kita lakukan apabila kita mendalami shirah Muhammad, melalui hadits-haditsnya maupun sejarah kehidupannya.
Bagaimana mungkin kita dapat menjadikan Muhammad sebagai tauladan tanpa mengetahui siapa Muhammad SAW tersebut.
Cukup tragis terjadi pada umat Islam, apabila lebih mengetahui sejarah hidup selebritis dibanding Rasulnya, karena memang mereka lebih senang mengenal selebritis tersebut dibanding Muhammad SAW. Bahkan mereka yang dengan sepenuh hati berupaya mencontoh kehidupan Rasul dicemooh dengan berbagai cemoohan.
Pengingkaran terhadap kekuasaan Allah SWT dan tidak mengenal sosok Muhammad SAW menjadikan umat Islam semakin terpuruk dalam kancah peradaban dunia.

Kondisi yang seperti inilah menjadi problem utama umat Islam sekarang ini, sehingga Islam hanya menjadi agama yang sempurna di ajarannya tapi tidak pada umatnya. Keyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna hanya pada kitab suci Al-Qur’an , tidak ditemui pada umatnya.

Maka sangat berbahaya kalau syahadat hanya dapat diucapan tapi tidak diketahui konsekuensi dari syahadat tersebut. Karena itu, memang tepat, dalam rukun Islam syahadat diposisikan pada nomor urut pertama, karena ia adalah pondasi bagi umat Islam. Tidak mungkin bangunan menjadi kuat tanpa pondasi yang kuat; tidak mungkin umat Islam dapat kuat kalau pondasinya (yaitu syahadat) tidak dihayati oleh umat Islam.

Kalau kita menginginkan Islam akan kembali menjadi peradaban besar, seperti yang pernah terjadi di Madinah pada masa Rasulullah dulu, sempurnakanlah syahadat. Jadikan syahadat sebagai tolok ukur pada setiap aktivitas kehidupan.
Mengingat begitu strategisnya fungsi syahadat dan begitu bahayanya apabila syahadat kita sepelekan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mulai memperbaharui syahadat, mendalami maknanya, dan mempelajari konsekuensi-konsekuensi syahadat, kecuali kalau kita memang tidak menginginkan Islam berjaya dan tidak menginginkan selamat dunia dan akhirat!
*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat








Edis Keempat

KELUARGA KUNCI KESUKSESAN

Oleh Beni Rasdiwansyah*)

Keluarga merupakan pondasi pertama seseorang dalam mengarungi kehidupan ini, karena


keberhasilan dan kegagalan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor keluarga namun tidak semua ini mempengaruhinya, masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Maraknya kasus penganiayaan terhadap orang tuanya, misalnya dengan melakukan pemukulan ringan sampai berat bahkan adapula yang membunuh orang tuanya sendiri.(Nauzubiillah min dzalik). Adapula anak yang broken home, anak mencari perhatian di luar, mencari identitas diri yang tidak dibimbing oleh kedua orang tuanya, yang akibatnya anak salah pergaulan, minum-minuman, narkoba dan lain-lainnya. Anak hanya diberi secara kebutuhan materi saja tanpa diimbangi dengan kebutuhan sprituil. Adapula kasus orang tua yang melakukan korupsi di tempat kerjanya sehingga membuat malu anggota keluarga, keluarga menjadi minder menghadapi lingkungan sekelilingnya.
Dari kejadian-kejadian di atas maka dapat kita tarik permasalahan? Mengapa ini terjadi? Dan bagamana kita menyikapi masalah ini?
Menurut KH. Abdullah Gymnastiar penyebab mengapa ini terjadi, diantaranya:

· Karena dia (orang tua) tidak pernah punya waktu yang memadai untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh, karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
· Sebagian orang tua hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman,
kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.

Adapun yang perlu kita lakukan dalam menghadapi ini, maka perlu diupayakan:

· Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
· Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
· Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan

pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.

· Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain. Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluarga banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.

· Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik.
Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan staf pengajar di salah satu SMK Swasta.





Edisi Ketiga

MANUSIA DAN FUNGSINYA

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjalankan fungsinya sebagai ”Hamba Allah” dan ”Khalifah di muka bumi”. Kedua fungsi manusia di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada 2 (dua) hubungan yang mesti dijalaninya, yaitu: ketika berhadapan dengan sang Khalik, fungsi yang dijalankan adalah fungsi hamba Allah, kemudian ketika berhadapan dengan selain sang Khalik fungsi yang dijalankan adalah fungsi khalifah. Pelaksanaan kedua fungsi tersebut dilaksanakan oleh manusia tidak dalam waktu yang berbeda, akan tetapi, ketika manusia ingin ”sukses” dalam mejalankan kekhalifahannya harus disertai dengan perasaan tunduk dan patuh pada perintah Allah (fungsi Hamba Allah); begitu juga sebaliknya, sempurnanya fungsi ”Hamba Allah” digambarkan dalam kesuksesannya dalam menjalankan fungsi ”kekhalifahannya”.

Jadi, fungsi hamba Allah dan khalifah ibarat 2 sisi mata uang, ”berbeda tapi tidak dapat dipisahkan” Terjemahan firman Allah yang relevan dalam fungsi manusia sebagai khalifah adalah sebagai berikut:


”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesunggunya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S : Al-Jatsiyah/45 :13)
selain itu Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk ciptaan yang terbaik (Q.S : At-Tiin/95 : 1 – habis)

Dari dua point penjelasan Al Qur’an di atas dapat diambil suatu makna yang menjelaskan bahwa terdapat konsep penundukkan alam untuk manusia. Konsep itu sekaligus juga berhubungan dengan ”design” Tuhan bahwa manusia adalah puncak ciptaanNya. Maka sebagai makhluk tertinggi, manusia harus ”melihat ke atas” hanya kepada Allah, kemudia kepada sesamanya harus melihat dalam garis mendatar yang rata, dan kepada alam harus melihat ke bawah, dalam arti melihatnya dengan kesadaran bahwa dalam hirarki ciptaan Tuhan, alam adalah lebih rendah daripada dirinya.
Oleh karena itu semualah, maka perilaku syirik dikategorikan sebagai dosa terbesar, Tuhan membenci syirik bukan karena dengan perbuatan tersebut kekuasaannya akan berkurang atau Tuhan cemburu, akan tetapi karena manusia merendahkan martabat kekhalifahannya sendiri sebagai makhluk yang paling sempurna ciptanNya dibandingkan ciptaan Tuhan yang lain.
Konsep tentang fungsi manusia ini harus benar-benar dipahami oleh setiap manusia muslim agar dapat memposisikan diri pada posisi yang tepat yaitu: hanya tunduk pada Tuhan, tidak melakukan kezaliman/memandang rendah pada
sesama dan menjadikan alam sebagai alat untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, melakukan penindasan kepada sesama manusia dan menjadikan alam sebagai Tuhan-Tuhan tandingan.
Banyak contoh-contoh perbuatan manusia yang lari dari fungsinya sebagai manusia, umpamanya berjudi, berzinah, minum khamar dan sebagainya. Perbuatan ini bentuk dari kesombongannya kepada Tuhan karena Tuhan melarang perbuatan tersebut; setiap bentuk pelanggaran terhadap perintah Tuhan sebenarnya merupakan manifestasi kesombongan manusia terhadap Tuhannya.

Contoh lainnya seperti tindakan korupsi, pembunuhan, penganiayaan dan sebagainya adalah merupakan bentuk perbuatan yang tidak menghormati harkat dan martabat sesama manusia. Contoh yang berkaitan dengan penyerahan diri yang berlebihan pada alam antara lain adalah praktek-praktek ritual yang berbentuk penyembahan pada selain Allah dan percayai bahwa kalau ritus-ritus tersebut tidak dilaksanakan maka bencana akan menimpa manusia.
Kerugian manusia karena syirik terwujud dalam ketundukan apriori dirinya kepada alam atau unsur alam yang dipujanya atau yang sekurangnya dipercayai memiliki kemampuan lebih daripada yang secara hakiki dan wajar terdapat pada alam atau unsur alam itu. Dengan syiriknya itu, manusia merosot dari kedudukannya sebagai makhluk yang mengatasi alam menjadi makhluk yang berada dibawahnya.
Sebab masih sering ditemui, banyak manusia yang berlaku sombong pada Tuhan, kedudukannya sebagai makhluk yang mengatasi alam menjadi makhluk yang berada dibawahnya.

”Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Q.S : Al-Hajj/22 : 31)
Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi diperlukan ilmu pengetahuan, tanpa ini fungsi khalifahnya akan tidak sempurna. Peranan ilmu pengetahuan inilah yang nantinya akan menentukan kualitas kekalifahan seseorang. Logikanya, semakin tinggi ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang akan semakin berkualitas kekhalifahannya yang dijalankannya, karena dengan ilmu pengetahuan itulah manusia akan dapat menundukkan alam.

Meskipun demikian bukan berarti hanya ilmu pengetahuan yang dapat menyempurnakan fungsi kemanusiaan, ilmu pengetahuan juga dapat menjatuhkan martabat kemanusiaan, maka untuk menghindari kejatuhan, manusia memerlukan petunjuk Ilahi, sebagai ”spiritual safety net”. Dengan petunjuk Ilahi itu disertai kedalaman ilmu pengetahuan manusia akan tidak tersesat dari fungsinya Kelengkapan lain yang perlu dimiliki manusia dalam menjalankan fungsinya adalah kebebasan, namun tetap mengenal batas pelanggaran terhadap batas itu membuat manusia jatuh tidak terhormat. Dorongan untuk melanggar batas ialah nafsu serakah, yaitu perasaan tidak pernah puas dengan anugerah Tuhan.
Sebagai penutup dari tulisan ini, kami sampaikan satu ayat dari Al Qur’an sebagai bahan renungan yaitu sebagai berikut:

Ingatlah ketika TuhanMu berfirman kepada para malaikat: ”sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: ”Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Tuhan berfirman: ”sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S Al Baqarah/2:30).
*)Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat



Jumat, 18 Januari 2008

Edisi Kedua (2/1/2008)

T A U B A T
Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)


Dalam kehidupan sehari-hari sering kita saksikan perbuatan/tingkah laku manusia yang saling bertentangan dengan status sosialnya. Umpamanya: guru ngaji memperkosa anak muridnya, pemimpin menindas rakyatnya, orang miskin menyumbang untuk pembangunan, dan banyak lagi contoh contoh yang dapat kita temukan di sekitar kita.
Kejadian seperti ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi kita, untuk mendapatkan hikmah sehingga dapat kita jadikan pedoman hidup dan kehidupan ini. Perenungan terhadap fenomena ini menjadi penting, karena dengan itu kita dapat menempatkan diri pada posisi sebagai muslim yang sebenarnya.

Banyak sekali kita temukan pada ahli agama yang tingkah lakunya bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri dan sebaliknya banyak juga kita temukan kaum awam yang akhlaknya sangat islami walaupun dia tidak ahli dalam beribadah, bahkan ada juga yang bukan ahli ibadah yang sangat santun akhlaknya.
Mengapa ini semua terjadi? Mengapa di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi korupsinya merajalela? Mengapa umat Islam yang seharusnya menjadi penegak kebenaran malah kemaksiatan merajalela? Mengapa masjid yang semakin megah dan indah tetapi sepi dari jamaah? Mengapa semakin banyak orang yang bangga dengan perbuatan
dosa? Mengapa minuman haram menjadi minuman “biasa-biasa saja” bagi mereka yang mengaku muslim? Mengapa aurat wanita menjadi tontonan umum bahkan menjadi komoditas ekonomi? Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Banyak sekali mengapa-mengapa lain yang dapat kita susun! Banyak sekali pertanyaan yang dapat kita angkat terhadap kejadian ini, tetapi yang terpenting apa yang mesti kita lakukan terhadap kejadian ini.
Harus disadari bahwa agama Islam bukan milik para rohaniwan juga bukan monopoli orang-orang yang memegang ijazah sekolah agama. Bila selama ini ada lembaga-lembaga yang dianggap memiliki otoritas khusus mengatur perkara agama, itu hanya pengaturan administratif. Hal-hal yang rohaniah tidak dapat diambil alih oleh lembaga-lembaga tersebut.
Komitmen terhadap agama milik semua orang. Artinya juga milik rakyat. Untuk menjadi pemeluk agama yang shaleh orang tidah harus menjadi ahli agama (bukan berarti kita tidak harus menjadi ahli agama). Sudah sangat banyak bukti, orang yang tak terduga-duga, karena kesederahanaannya dan kemiskinannya ternyata lebih sholeh dari orang-orang yang kesana-kemari tampil dengan simbol-simbol keagamaan.

Dengan kesadaran seperti inilah menurut kami, kita dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diungkap di atas tadi. Artinya setiap muslim berkewajiban menyelesaikan semua persoalan tersebut, berkewajiban memperbaiki diri demi tercapainya agama Islam yang berjaya. Islam mengajarkan “masuklah kamu dalam Islam secara kaffah (total)” jangan campur adukan yang hak dan yang bathil, “berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu”.

Kita semua tahu perintah itu, tapi kita abaikan. Kehidupan duniawi telah memperdaya kita, kesombongan telah menjadi motto kita. Kemiskinan dan kelaparan lebih kita takuti daripada azab kubur dan siksa neraka. Kekayaan dan jabatan lebih kita cintai daripada sorga dan ridho Allah.

Tempat-tempat hiburan lebih sering kita kunjungi daripada masjid. Seandainya setiap muslim mau menyadari bahwa hidup di dunia ini tidak abadi, bahwa kita semua akan mati; ketika maut menjemput terpikirlah oleh kita siapa yang akan menyembahyangkan, yang akan memohon ampunan dosa kita; tidak takutkah kita apabila 2 – 3 orang saja yang mau menyembahyangkan dan memohon ampunan kepada Allah.
Sekarang, sebelum semuanya terlambat, mari kita bertaubat memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa kita, jangan tunda lagi, tunduklah diri dan hati kita serendah-rendahnya di hadapan Allah, mari kita bunuh kesombongan
yang bersemayam dalam jiwa, ikhlaskan setiap perbuatan dan pikiran hanya untuk mengharap ridho Allah SWT.

Tuhanku …

Begitu lama aku tidak mempedulikanmu

Aku hanya butuh Engkau ketika susahku

Bahkan kadangkala aku memarahiMu karena cobaan yang Engkau berikan

Tuhanku …

Aku sombong dan angkuh

Bujukan iblis durjana lebih kuikuti

Setiap hari hanya madu dunia yang kucari

Tuhanku …

Ampunilah salah dan dosaku

Sembuhkanlah penyakit yang ada di hatiku

Berikan petunjukMu … Ya Rabb

Sujudkanlah hatiku

Sujud yang ikhlas

Sujud pengakuan akan dosaku

Sujud pertaubatan

Aamiin ….

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat


Opini Jama’ah


Pandangan Pengusaha Terhadap Islam dan Lingkungannya

(Salah satu jama’ah yang identitasnya disamarkan)

Manusia sekarang ini hanya mempergunakan otak dan hawa napsu saja tidak mempergunakan hati, ini dicontohkan manusia dalam mencari rezeki tidak memandang darimana rezeki yang ia dapat, tidak peduli itu haram.
Sistim ibadah/cara beribadah kepada Allah SWT tidak baku, ini dicontohkan A dalam hal mencari rezeki (duniawi) cukup dilakukan dari pagi hingga menjelang magrib, setelah itu waktu yang tersisa mencari dalam hal akhirat. Contoh B mencari rezeki siang dan malam namun dalam sholat 5 (lima waktu) tidak tinggalkan juga, karena si B berprinsip kerja itu ibadah dan ibadah dapat dilakukan dimana saja.
Dalam hal mendidik anak, tidak bangga dengan anak yang sukses dalam karir dunia saja misalnya anak menjadi pengusaha besar, pejabat, ilmuwan tetapi anak tersebut meninggalkan agama. Apabila ini terjadi, maka ia akan menjadi pengusaha yang otoriter, pejabat yang korup, kasar dan lain-lainnya. Bahkan sebaliknya bangga akan anak-anak yang menjadi orang biasa saja tetapi dalam hal agama/ibadah ia rajin dan tekun.
Dalam hal pengaruh masjid terhadap pembinaan ibadah masyarakat sekitarnya masih belum memuaskan, ini dikarenakan hidayah Allah belum mengena pada seseorang, orang tidak pandai bersyukur kepada nikmat yang diberikan Allah, masih banyak orang mencari rezeki siang dan malam tetapi melupakan ibadahnya kepada Allah, kemudian masyarakat yang majemuk/heterogen tidak homogen, biasanya dalam hal persamaan persepsi yang heterogen yang susah mencari kesepakatan.
Sedangkan Visi dan Misi yang dilakukan adalah:

1. Langkahkan kaki ke masjid dengan banyak-banyak nama Allah/berdzikir

2. Jadikan bahwa sholat berjamaah di masjid lebih banyak pahalanya bila dibandingkan dengan sholat di rumah.

3. Orang laki-laki wajib untuk ke masjid.

4. Menggali ilmu dari iman-iman masjid

Terakhir kunci hidup adalah, harta bukanlah segala-galanya! Hidup hanya sementara, dan kehidupan manusia di dunia ini tidak akan pernah habis-habisnya maka dari itu beribadah kepada Allah untuk mengatasi hal tersebut.



Kamis, 03 Januari 2008

Edisi Pertama

Alhamdulillah, akhirnya edisi pertama dapat kami rampungkan juga, dengan segala kekurangan dan keterbatasan, mohon untuk segala koreksi yang bersifat membangun kami harapkan.

DASAR-DASAR KEPERCAYAAN

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

I.Joni (nama samaran) adalah seorang pemuda produk dari keluarga yang rusak. Kondisi ini mengakibatkan Joni menjadi seseorang yang mencari penghidupan di dunia jalanan. Dia hidup pada dunia yang keras dan penuh tantangan. Sejak usia belia ia telah terbiasa hidup dan berteman dengan orang biasa menyebut sampah masyarakat. Disanalah ia membentuk jadi dirinya dan disana pula ia berusaha memenuhinya basic needs-nya.
Dari kehidupan yang seperti ini terciptalah seorang Joni yang tidak takut pada tantangan sekeras apapun. Ia tidak takut kehidupannya tidak akan berlangsung, tidak takut melanggar norma-norma formal yang melingkupinya. Ia berani hidup dalam suasana yang sekeras apapun, bahkan ia tidak takut pada taruhan nyawa yang sangat mungkin akan menimpa dirinya, ia tidak takut mati.
Akan tetapi ada suatu hal yang sangat aneh pada dirinya, ia tidak berani pada suatu kegelapan, ia tidak dapat tidur apabila suasananya gelap, sehingga ia akan selalu menghindar dari keadaan yang membuat dirinya akan berada dalam kegelapan. Ia tidak tahu kenapa dirinya sangat takut pada kondisi itu, ia pernah mencoba untuk merubahnya tapi ia tidak mampu.

II.Kakek Bejo (nama samaran) hidup di suatu pedalaman yang masih terisolasi. Ia cukup dipandang di mata peduduk. Karena ia memiliki kharisma. Orang-orang selalu bertanya padanya akan suatu hal yang memberatkannya. Kakek Bejo memelihara seekor burung Nuri yang sangat dicintainya, ia memberikan sangkar yang indah dan pemeliharannya yang sebaik-baiknya, walaupun ia bukanlah seorang yang memiliki kekayaan yang berlebih (atau miskin), tetapi ia akan mendahulukan untuk burungnya daripada yang lainnya. Hal ini menurut dia merupakan manifestasi dari cintanya.

Apa yang dapat kita tangkap dari 2 ilustrasi di atas?

Dari ilustrasi pertama kita melihat ada suatu ketakutan yang tidak logis yang dialami Joni. Dan ilustrasi kedua ada suatu rasa cinta pada suatu hal yang tidak ekonomis, tidak rasional. Rasa takut dan rasa cinta yang tidak logis. Kenapa ini terdapat pada diri manusia? Ini bukan merupakan fenomena akan tetapi ini adalah hal yang universal, setiap manusia memiliki hal ini. Dan ini jugalah yang membedakan eksistensi manusia dengan hewan.

Sayyed Hussein Nasr mengatakan dalam bukunya “Menjelajah Dunia Modern” hal 17.
“Islam adalah agama yang datang bukan untuk membawa sesuatu yang baru, melainkan untuk menegaskan kembali kebenaran tauhid yang selalu ada. Islam adalah agama universal, agama primordial”

Salah satu bentuk dari pemaknaan tauhid adalah rasa takut dan rasa cinta yang diarahkan kepada sesuatu. Bila kita menelaah pendapat dari SH Nasser di atas maka arahan yang jelas telah diberikan Allah SWT terhadap manusia dan itu merupakan fitrah. Akan tetapi Joni dan kakek Bejo ternyata pemaknaan tauhidnya pada sesuatu yang salah. Fenomena ini terjadi akibat adanya benturan fisik dan psikologis pada diri manusia sehingga terjadi akibat pergeseran-pergeseran fitrah dan karena itu maka Rasul dan Nabi diperlukan, untuk kembali menyadarkan fungsi kehadiran manusia dii muka bumi.

Terlepas dari salah atau benarnya yang telah dilakukan oleh Joni dan kakek Bejo, yang pasti bahwa manusia tidak bisa melepaskan dasar-dasar kepercayaan yang Inheren, hanya bentuk permaknaannya yang berbeda.

Selain dari itu ilustrasi kedua, kita dapat menangkap satu makna yaitu pengorbanan yang tidak ekonomis yang dilakukan oleh kakek Bejo. Suatu pengorbanan yang kalau diperspektifkan dari kacamata ekonomi merupakan pengorbanan yang konyol. Pengorbanan yang tidak semestinya dilakukan.

Dasar-dasar kepercayaan (cinta, takut dan pengorbanan) yang dimaknai oleh Joni dan kakek Bejo seperti telah dikatakan di atas perlu dilakukan pelurusan, bila tidak ingin eksistensi kemanusiannya tereksternalisasi dalam bentuk yang tidak benar, dan harus mengarahkannya kepada sesuatu yang memang benar sesuatu kebenaran yang telah menjadi milik manusia sejak manusia pertama hadir.Untuk mengetahui kebenaran yang benar-benar hakiki maka kita harus mencarinyadari sesuatu Yang Tunggal Absolut, sehingga kebenaran yang akan didapat bukan merupakan kebenaran yang ambivalen.

Islam seperti yang dikatakan oleh SH. Nasser di atas memberilan petunjukanya mengenai hal tersebut melalui wahyu-Nya, seperti yang terdapat dalam Surat Al-Anbiya : 25

“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu (Muhammad) seorang rasul pun kecuali kami wahyukan kepadanya, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah kecuali Aku, maka sembahlah Aku”

Para pengkaji agama-agama seperti Huston Smith, Jhon L Esposito, Jhon O Voll (non muslim), Fazlur Rahman, Nurcholis Majid (Muslim) berpendapat bahwa hanya Islam lah yang merupakan satu-satunya agama yang bersifat Monotheisme Absolut.

Dengan demikian kalau kita mencari kebenaran dari Islam, maka yang didapat mustahil ambivalen. Dan Islam mengajarkan bahwa kebenaran itu hanya Allah yang mutlak.

Jadi dalam membahasakan dasar-dasar kepercayaan bukan berpijak pada kesenangan akan tetapi berpijak pada kebenaran.

Sekarang kebenaran itu hanyalah Tuhan Allah SWT, dan Allah memberikan jalan dengan doktrin tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah.

Pemaknaan dari konsep Syahadatein sebagai konsekuensi logis dari fitrah manusia, yaitu setiap manusia memiliki rasa cinta, rasa takut dan jiwa pengorbanan mengandung arti bahwa setiap manusia harus membebaskan diri dari setiap kepercayaan yang tidak benar. Dengan demikian manusia mangarahkan dasar-dasar

kepercayaannya kepada kebenaran. Ia cinta kepada kebenaran.

Takut apabila ia tidak mendapatkan kebenaran. Dan dengan segenap potensi yang dimilikinya ia rela berkorban untuk memperjuangkan kebenaran. Sepertii inilah mungkin yang dimaksud dengan manusia sempurna. Manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dalam bentuk yang diinginkan oleh “sang kebenaran”.

Untuk dapat menjadikan dirinya sebagai manusia sempurna, ia harus mengikis habis paham-paham seperti Joni-isme dan kakek Bejo-isme, atau dengan bahasa universalnya, ia harus mengkritisi nilai-nilai kepercayaan tradisional.

Kesimpulan:

1.Setiap manusia memiliki dasar-dasar kepercayaan dan hal tersebut bersifat primordial

2.Dasar-dasar kepercayaan yang dimiliki manusia karena mengalami benturan-benturan fisik dan psikologis sering termanifestasi dalam bentuk yang salah.

3 Islam hadir untuk meluruskannya kembali kepada konsep-konsep Syahadatein.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat


Minggu, 09 Desember 2007

Uji Coba Posting

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat membuat blogger sebagai sarana untuk saling berbagi, berdiskusi dalam rangka menuju kearah kesempurnaan hidup. Mudah-mudahan Allah SWT merestui apa yang kita perbuat.

Bengkulu, 10 Desember 2007
Tim Humas