Minggu, 02 Maret 2008

Edisi Ketiga

MANUSIA DAN FUNGSINYA

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjalankan fungsinya sebagai ”Hamba Allah” dan ”Khalifah di muka bumi”. Kedua fungsi manusia di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada 2 (dua) hubungan yang mesti dijalaninya, yaitu: ketika berhadapan dengan sang Khalik, fungsi yang dijalankan adalah fungsi hamba Allah, kemudian ketika berhadapan dengan selain sang Khalik fungsi yang dijalankan adalah fungsi khalifah. Pelaksanaan kedua fungsi tersebut dilaksanakan oleh manusia tidak dalam waktu yang berbeda, akan tetapi, ketika manusia ingin ”sukses” dalam mejalankan kekhalifahannya harus disertai dengan perasaan tunduk dan patuh pada perintah Allah (fungsi Hamba Allah); begitu juga sebaliknya, sempurnanya fungsi ”Hamba Allah” digambarkan dalam kesuksesannya dalam menjalankan fungsi ”kekhalifahannya”.

Jadi, fungsi hamba Allah dan khalifah ibarat 2 sisi mata uang, ”berbeda tapi tidak dapat dipisahkan” Terjemahan firman Allah yang relevan dalam fungsi manusia sebagai khalifah adalah sebagai berikut:


”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesunggunya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S : Al-Jatsiyah/45 :13)
selain itu Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk ciptaan yang terbaik (Q.S : At-Tiin/95 : 1 – habis)

Dari dua point penjelasan Al Qur’an di atas dapat diambil suatu makna yang menjelaskan bahwa terdapat konsep penundukkan alam untuk manusia. Konsep itu sekaligus juga berhubungan dengan ”design” Tuhan bahwa manusia adalah puncak ciptaanNya. Maka sebagai makhluk tertinggi, manusia harus ”melihat ke atas” hanya kepada Allah, kemudia kepada sesamanya harus melihat dalam garis mendatar yang rata, dan kepada alam harus melihat ke bawah, dalam arti melihatnya dengan kesadaran bahwa dalam hirarki ciptaan Tuhan, alam adalah lebih rendah daripada dirinya.
Oleh karena itu semualah, maka perilaku syirik dikategorikan sebagai dosa terbesar, Tuhan membenci syirik bukan karena dengan perbuatan tersebut kekuasaannya akan berkurang atau Tuhan cemburu, akan tetapi karena manusia merendahkan martabat kekhalifahannya sendiri sebagai makhluk yang paling sempurna ciptanNya dibandingkan ciptaan Tuhan yang lain.
Konsep tentang fungsi manusia ini harus benar-benar dipahami oleh setiap manusia muslim agar dapat memposisikan diri pada posisi yang tepat yaitu: hanya tunduk pada Tuhan, tidak melakukan kezaliman/memandang rendah pada
sesama dan menjadikan alam sebagai alat untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, melakukan penindasan kepada sesama manusia dan menjadikan alam sebagai Tuhan-Tuhan tandingan.
Banyak contoh-contoh perbuatan manusia yang lari dari fungsinya sebagai manusia, umpamanya berjudi, berzinah, minum khamar dan sebagainya. Perbuatan ini bentuk dari kesombongannya kepada Tuhan karena Tuhan melarang perbuatan tersebut; setiap bentuk pelanggaran terhadap perintah Tuhan sebenarnya merupakan manifestasi kesombongan manusia terhadap Tuhannya.

Contoh lainnya seperti tindakan korupsi, pembunuhan, penganiayaan dan sebagainya adalah merupakan bentuk perbuatan yang tidak menghormati harkat dan martabat sesama manusia. Contoh yang berkaitan dengan penyerahan diri yang berlebihan pada alam antara lain adalah praktek-praktek ritual yang berbentuk penyembahan pada selain Allah dan percayai bahwa kalau ritus-ritus tersebut tidak dilaksanakan maka bencana akan menimpa manusia.
Kerugian manusia karena syirik terwujud dalam ketundukan apriori dirinya kepada alam atau unsur alam yang dipujanya atau yang sekurangnya dipercayai memiliki kemampuan lebih daripada yang secara hakiki dan wajar terdapat pada alam atau unsur alam itu. Dengan syiriknya itu, manusia merosot dari kedudukannya sebagai makhluk yang mengatasi alam menjadi makhluk yang berada dibawahnya.
Sebab masih sering ditemui, banyak manusia yang berlaku sombong pada Tuhan, kedudukannya sebagai makhluk yang mengatasi alam menjadi makhluk yang berada dibawahnya.

”Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Q.S : Al-Hajj/22 : 31)
Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi diperlukan ilmu pengetahuan, tanpa ini fungsi khalifahnya akan tidak sempurna. Peranan ilmu pengetahuan inilah yang nantinya akan menentukan kualitas kekalifahan seseorang. Logikanya, semakin tinggi ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang akan semakin berkualitas kekhalifahannya yang dijalankannya, karena dengan ilmu pengetahuan itulah manusia akan dapat menundukkan alam.

Meskipun demikian bukan berarti hanya ilmu pengetahuan yang dapat menyempurnakan fungsi kemanusiaan, ilmu pengetahuan juga dapat menjatuhkan martabat kemanusiaan, maka untuk menghindari kejatuhan, manusia memerlukan petunjuk Ilahi, sebagai ”spiritual safety net”. Dengan petunjuk Ilahi itu disertai kedalaman ilmu pengetahuan manusia akan tidak tersesat dari fungsinya Kelengkapan lain yang perlu dimiliki manusia dalam menjalankan fungsinya adalah kebebasan, namun tetap mengenal batas pelanggaran terhadap batas itu membuat manusia jatuh tidak terhormat. Dorongan untuk melanggar batas ialah nafsu serakah, yaitu perasaan tidak pernah puas dengan anugerah Tuhan.
Sebagai penutup dari tulisan ini, kami sampaikan satu ayat dari Al Qur’an sebagai bahan renungan yaitu sebagai berikut:

Ingatlah ketika TuhanMu berfirman kepada para malaikat: ”sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: ”Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Tuhan berfirman: ”sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S Al Baqarah/2:30).
*)Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat



Tidak ada komentar: