MANUSIA DAN FUNGSINYA
Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)
Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjalankan fungsinya sebagai ”Hamba Allah” dan ”Khalifah di muka bumi”. Kedua fungsi manusia di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada 2 (dua) hubungan yang mesti dijalaninya, yaitu: ketika berhadapan dengan sang Khalik, fungsi yang dijalankan adalah fungsi hamba Allah, kemudian ketika berhadapan dengan selain sang Khalik fungsi yang dijalankan adalah fungsi khalifah. Pelaksanaan kedua fungsi tersebut dilaksanakan oleh manusia tidak dalam waktu yang berbeda, akan tetapi, ketika manusia ingin ”sukses” dalam mejalankan kekhalifahannya harus disertai dengan perasaan tunduk dan patuh pada perintah Allah (fungsi Hamba Allah); begitu juga sebaliknya, sempurnanya fungsi ”Hamba Allah” digambarkan dalam kesuksesannya dalam menjalankan fungsi ”kekhalifahannya”.
Jadi, fungsi hamba Allah dan khalifah ibarat 2 sisi mata uang, ”berbeda tapi tidak dapat dipisahkan”
Dari dua point penjelasan Al Qur’an di atas dapat diambil suatu makna yang menjelaskan bahwa terdapat konsep penundukkan alam untuk manusia. Konsep itu sekaligus juga berhubungan dengan ”design” Tuhan bahwa manusia adalah puncak ciptaanNya. Maka sebagai makhluk tertinggi, manusia harus ”melihat ke atas” hanya kepada Allah, kemudia kepada sesamanya harus melihat dalam garis mendatar yang rata, dan kepada alam harus melihat ke bawah, dalam arti melihatnya dengan kesadaran bahwa dalam hirarki ciptaan Tuhan, alam adalah lebih rendah daripada dirinya.
Contoh lainnya seperti tindakan korupsi, pembunuhan, penganiayaan dan sebagainya adalah merupakan bentuk perbuatan yang tidak menghormati harkat dan martabat sesama manusia. Contoh yang berkaitan dengan penyerahan diri yang berlebihan pada alam antara lain adalah praktek-praktek ritual yang berbentuk penyembahan pada selain Allah dan percayai bahwa kalau ritus-ritus tersebut tidak dilaksanakan maka bencana akan menimpa manusia.
Sebab masih sering ditemui, banyak manusia yang berlaku sombong pada Tuhan, kedudukannya sebagai makhluk yang mengatasi alam menjadi makhluk yang berada dibawahnya.
”Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Q.S : Al-Hajj/22 : 31)
Meskipun demikian bukan berarti hanya ilmu pengetahuan yang dapat menyempurnakan fungsi kemanusiaan, ilmu pengetahuan juga dapat menjatuhkan martabat kemanusiaan, maka untuk menghindari kejatuhan, manusia memerlukan petunjuk Ilahi, sebagai ”spiritual safety net”. Dengan petunjuk Ilahi itu disertai kedalaman ilmu pengetahuan manusia akan tidak tersesat dari fungsinya
”Ingatlah ketika TuhanMu berfirman kepada para malaikat: ”sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: ”Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Tuhan berfirman: ”sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S Al Baqarah/2:30).
*)Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar