Minggu, 02 Maret 2008

Edis Keempat

KELUARGA KUNCI KESUKSESAN

Oleh Beni Rasdiwansyah*)

Keluarga merupakan pondasi pertama seseorang dalam mengarungi kehidupan ini, karena


keberhasilan dan kegagalan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor keluarga namun tidak semua ini mempengaruhinya, masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Maraknya kasus penganiayaan terhadap orang tuanya, misalnya dengan melakukan pemukulan ringan sampai berat bahkan adapula yang membunuh orang tuanya sendiri.(Nauzubiillah min dzalik). Adapula anak yang broken home, anak mencari perhatian di luar, mencari identitas diri yang tidak dibimbing oleh kedua orang tuanya, yang akibatnya anak salah pergaulan, minum-minuman, narkoba dan lain-lainnya. Anak hanya diberi secara kebutuhan materi saja tanpa diimbangi dengan kebutuhan sprituil. Adapula kasus orang tua yang melakukan korupsi di tempat kerjanya sehingga membuat malu anggota keluarga, keluarga menjadi minder menghadapi lingkungan sekelilingnya.
Dari kejadian-kejadian di atas maka dapat kita tarik permasalahan? Mengapa ini terjadi? Dan bagamana kita menyikapi masalah ini?
Menurut KH. Abdullah Gymnastiar penyebab mengapa ini terjadi, diantaranya:

· Karena dia (orang tua) tidak pernah punya waktu yang memadai untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh, karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
· Sebagian orang tua hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman,
kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.

Adapun yang perlu kita lakukan dalam menghadapi ini, maka perlu diupayakan:

· Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
· Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
· Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan

pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.

· Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain. Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluarga banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.

· Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik.
Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan staf pengajar di salah satu SMK Swasta.





Tidak ada komentar: