Senin, 31 Maret 2008

Edisi Pertama No 9

TAQWA

Oleh: Andy Wijaya*)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. 49 : 13)

Ayat di atas diawali dengan pemaparan fakta kesinambungan naluri manusia untuk hidup berkolektif, yaitu seorang laki-laki, seorang perempuan, bangsa dan suku. Fakta ini lebih merupakan “tanda material” bagi manusia untuk saling kenal mengenal. Dan juga menyiratkan kesetaraan manusia dalam perspektif gender maupun komunitas. Artinya tak ada yang lebih unggul dari seorang laki-laki atas perempuan atau sebaliknya, juga tak ada yang lebih unggul suatu suku atas suku yang lain dan suatu bangsa atas bangsa lain. Cara Pandang yang seperti inilah yang dimaksudkan oleh Kuntowijoyo sebagai liberasi-humanisasi, bahwa perintah Allah selalu berkesesuaian dengan fitrah manusia sekaligus membebaskan manusia dari tawanan sesuatu yang bersifat material.

Fakta sosial-historis memperlihatkan bagaimana hidupnya pandangan bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan pada berbagai kebudayaan dan peradaban. Bahkan pada berbagai momentum, terutama politik, muncul pandangan bahwa perempuan tak bisa menjadi pemimpin dengan berbagai argumen yang juga didasari atau mengacu pada nilai-nilai agama. NAZI Jerman adalah bentuk dari pandangan yang menganggap Ras Arya (bangsa Jerman) sebagai ras manusia yang paling unggul dibanding ras yang lain. Begitu juga dengan bangsa Yahudi yang menganggap mereka sebagai bangsa pilihan.

Pernyataan “agar saling kenal mengenali” mengharuskan manusia untuk saling mempelajari antar budaya berbagai bangsa dan suku. Kemampuan kenal mengenali, kalau mampu dipraktekkan oleh umat Islam, maka umat Islam akan lebih mampu menegaskan posisinya sebagai umatan wasathan (umat tengah-tengah).

Lalu, dimana letak keunggulan manusia? Meneruskan ayat Al Qur’an di atas, maka letak keunggulan tersebut adalah yang paling bertaqwa di antaramu. Kata taqwa menjadi kata kunci untuk kita mendapatkan pengertian. Pengertian taqwa dapat kita pahami seperti pada Q.S Al Baqarah ayat 2-5 dan 177 (masih banyak ayat-ayat lain), yaitu mereka beriman pada Allah, pada yang gaib, pada Kitab Suci, pada malaikat; menegakkan sholat; membayar zakat; menafkahkan sebagian rezeki yang didapat; menepati janji bila berjanji; menyantuni anak yatim, fakir miskin, musafir; orang-orang yang sabar dalam kesempitan. Ini artinya taqwa adalah akumulasi dari iman (keyakinan atau tujuan hidup), ilmu (pedoman untuk menentukan arah yang dilakukan) dan amal (bagaimana mewujudkan tujuan).

Dengan begitu seseorang laki-laki dikatakan lebih baik dari seorang perempuan atau suatu bangsa atas bangsa yang lain atau suatu suku atas suku yang lain lebih dikarenakan ia memiliki keyakinan hidup, tahu arah yang dituju dan mampu mewujudkannya ke dalam bentuk aktivitas-aktivitas nyata. Dan umat Islam sebagai khairu ummah (umat yang terbaik) tentunya harus mewujudkan konsepsi bertaqwa dalam kesehariannya. Dan sesungguhnya hanya orang-orang yang bertaqwa akan menemukan kebenaran Al Quran (QS. Al Baqarah/2 : 2) dalam hidupnya.

Problema taqwa dalam konteks ”saling kenal-mengenali” apabila tidak dipraktekkan dalam kehidupan nyata sehari-hari maka dapat mengakibatkan disintegrasi sosial. Hal ini terjadi karena suatu kelompok masyarakat yang enggan untuk mempelajari kelompok masyarakat yang lain dapat menumbuhkan rasa lebih unggul dari kelompok lain sehingga penindasan dan intoleransi sangat mungkin untuk terjadi.

Penjelasan konsep Taqwa seperti yang dipaparkan di atas, mengarahkan kehidupan Muslim untuk menterjemahkan konsep Taqwa pada hal yang sifatnya lebih luas, yaitu pada kehidupan bermasyarakat dan berbangsa bukan hanya pada konsep Taqwa yang bergerak pada wilayah individual.

Dengan kata lain seseorang dapat dikatakan bertaqwa diawali dari ketaqwaan individual kemudian dioperasionalisasikan pada kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Jadi, dengan demikian kualitas ketaqwaan seseorang tidak bisa hanya diukur dari praktek-praktek ibadah yang sifatnya individual, tapi juga harus dilihat dari seberapa besar manfaat seseorang dalam kesehariannya pada masyarakat; sebagai bentuk manifestasi dari ketaqwaan individualnya.

*) Penulis adalah Sekretaris KAHMI Wilayah Bengkulu Periode 2007 - 2012



Jumat, 21 Maret 2008

Edisi kedelapan

MAULID NABI; QUO VADIS ?

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

P

ada tanggal 20 Maret 2008 ini bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1429 H, suatu hari yang sangat bersejarah, bukan hanya bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh umat manusia. Karena, pada hari tersebut, tepatnya pada tahun 570 M atau 53 tahun sebelum Hijrah, lahirnya sesosok manusia yang nantinya akan mempelopori sebuah revolusi peradaban dunia; peradaban yang penuh dengan keteraturan kemajuan yang transendental. Manusia tersebut bernama Muhammad Rasul Allah SAW.

Perjalanan hidup beliau dipenuhi dengan perjuangan revolutif, baik phisik-material maupun mental-spiritual. Bahkan perjalanan revolutif beliau tersebut membawa perubahan terbesar dalam sejarah kehidupan umat manusia. Beliau menjadi sosok yang teguh dalam menegakkan keadilan, konsisten dalam menundukkan kelaliman dan memiliki rasa belas kasih yang tak terperi.

Dengan kebesaran dan kemuliaan yang dimilikinya membuat manusia seluruh dunia memperingari hari lahir beliau dengan penuh cita-cita dan harapan agar dapat selalu mengambil hikmah dari kehadirannya di muka bumi, demi kepentingan umat manusia itu sendiri. Maka, oleh karena itu, diciptakanlah berbagai macam seremoni agar peristiwa kelahiran beliau tersebut bisa “berkesan” bagi yang memperingatinya, meskipun beliau tidak pernah menganjurkan umatnya untuk memperingati hari lahirnya. Mulai dari yang sangat sederhana, seperti mengadakan ceramah seputar hari lahir beliau, sampai dengan kegiatan yang penuh dengan nuansa mistis, seperti yang biasa kita saksikan pada sebagian masyarakat kita.

Terlepas dari apa yang dilakukan umat dalam memperingati hari lahir beliau, yang terpenting perlu kita sikapi dari peristiwa ini adalah seberapa besar

manfaat yang bisa kita ambil untuk kehidupan umat manusia, kini dan masa mendatang. Jangan sampai kegiatan yang dilakukan terjebak pada suatu rutinitas yang tidak membawa arti apa-apa bagi umat; Kegiatan peringatan hari lahir Muhammad SAW (Maulid Nabi) dilaksanakan hanya karena perasaan “tidak enak” kalau tidak dilaksanakan. Kalau hal ini yang terjadi, maka jangankan untuk mendapatkan hikmah, pelaksanaanya pun akan terasa kering dan menjemukan, baik bagi pelaksana kegiatan maupun jama’ahnya, sehingga akhirnya , manfaat yang diharapkan akan susah didapat.

Untuk mencegah agar kegiatan Maulid Nabi tidak terjebak pada suatu rutinitas belaka, kita harus memulainya dari suatu pertanyaan: “Apakah tujuan dalam melaksanakan peringatan Maulid?”. Jawaban dari pertanyaan ini akan memunculkan pertanyaan berikutnya, yaitu “Bagaimana caranya agar tujuan dari peringatan tersebut dapat tercapai?” dan akhirnya “Apa bentuk kegiatannya?”. Dengan metode ini diharapkan akan muncul suatu kegiatan Maulid yang cerdas-kreatif dan kontekstual terhadap permasalahan umat yang terjadi saat ini.

Jawaban dari pertanyaan ”Apa tujuan peringatan Maulid?”, diawali dari persoalan lokal umat yang ada di sekitar kita dengan rincian yang nyata bukan normatif. Misalnya, masalah nyata pada masyarakat sekitar adalah masalah kebodohan maka kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan upaya untuk mencerdaskan umat, atau ketidakpedulian umat maka kegiatannya mengarah pada penumbuhan kesadaran untuk peduli pada umat. Dapat juga, umpamanya yang terjadi pada masyarakat sekitar adalah masalah kekosongan spiritual maka kegiatannya adalah dalam rangka menjawab persoalan itu, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, kegiatan yang dilakukan diupayakan untuk selalu berada pada upaya “problem solving” bagi permasalahan umat sekitar kita.

Peringatan Maulid Nabi, dengan demikian, menjadi suatu kegiatan yang bernas, penuh dengan solusi yang cerdas dan dinamis bagi kemajuan umat manusia seluruhnya, sesuai dengan keinginan Tuhan mengangkat Muhammad sebagai Rasul-Nya yaitu sebagi rahmatan lin ‘alamin , rahmat bagi sekalian alam. Sehingga peringatan Maulid Nabi juga mengapresiasi keinginan Tuhan tersebut.

Akan tetapi, kalau kita mencoba melaksanakan peringatan Maulid Nabi dengan metode seperti di atas, mungkinkah hanya dengan peringatan yang bersifat seremonial belaka. Jawabnya sudah pasti: Tidak. Lalu…, Bagaimana?

Kita harus melakukan perubahan yang paradigmatik dalam menyikapi hari lahir Nabi Muhammad SAW, dari yang hanya “peringatan” menjadi “Gerakan Peringatan Maulid Nabi”, suatu gerakan yang disusun secara sistematis dan terorganisir. Maka dari itu, kegiatan yang berkaitan dengan Maulid Nabi harus dilaksanakan dengan segala daya-upaya bukan dengan “sekedar saja”; yang penting terlaksana. Kita harus meninggalkan kebiasaan “sekedar saja” dalam membangun kejayaan Islam. Dan, dengan demikian, kita sudah melangkah satu langkah ke depan.

Memang untuk taraf awal, kita hanya “sekedar” melaksanakan peringatan Maulid Nabi, tapi akankah kita terus seperti ini?. Kalau ini terus kita lakukan, maka jangan mengeluh melihat kondisi umat yang seperti ini dimana Masjid belum dijadikan sebagai “rumah kedua”, kebodohan dan kemiskinan masih diderita sebagian umat Islam; umat masih merasa jauh dari Tuhannya.

Satu hal lagi, yang tak kurang pentingnya dari peringatan Maulid Nabi adalah bagaimana kita menjadikan momen Maulid sebagai upaya secara sadar untuk “melahirkan” kembali Muhammad SAW. Rasulullah memang telah wafat, tapi yang wafat hanyalah jasadnya, risalah perjuangannya yang telah diinstitusikan dalam “Sunnah Rasul” tidak boleh mati. Jadi, setiap tahun akan selalu “lahir” Muhammad yang dapat membawa pencerahan bagi kita. Kalau dahulu, pada saat Muhammad SAW masih hidup, ketika sahabat beliau ada permasalahan maka akan mudah untuk mendapatkan jawaban karena dapat langsung “curhat” kepada Baginda Rasul. Kalau kita selalu melahirkan kembali Muhammad pada setiap peringatan Maulid Nabi, maka kita pun dapat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para sahabat Rasul zaman dahulu, kendati pun dalam bentuk yang lain, yaitu dengan selalu merujuk pada Sunnahnya.

Hanya saja, permasalahannya sekarang, bagaimana kita dapat menghadirkan kembali Muhammad SAW dalam keseharian kita?, sedangkan kita jarang sekali mempelajari, apalagi menghayati sejarah hidup beliau, yang akhirnya-dapat dikatakan-, kita belum mengenal Muhammad SAW, kononlah lagi akan mencintainya, bahkan akan menghadirkannya dalam setiap peringatan Maulid.

Sedangkan, apabila kita telah mempelajari sejarah Rasul Muhammad, itupun menurut Muhammad Al Ghazaliy belum cukup, sebagaimana termaktub dalam bukunya pada halaman paling terakhir yang berjudul Fiqhus Sirah, yaitu, sebagai berikut:

“Mungkin anda merasa telah mempelajari kehidupan Muhammad Rasul Allah SAW. Bila anda telah mengikuti sejarah hidupnya sejak belau lahir hingga wafat. Itu adalah anggapan yang sangat keliru. Anda tidak akan memahami benar-benar riwayat kehidupan beliau kecuali jika anda telah mempelajari dan memahami isi Al Qur’anul Karim dan Sunnah Suci Rasul Allah SAW.

Seberapa dekat hubungan anda dengan seorang nabi pembawa agama Islam tergantung pada sejauh mana anda memahami dan mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”

******

Selamat ber-Maulid Nabi, semoga kita selalu dalam upaya untuk menjadikan beliau sebagai uswah utama dalam kehidupan ini. Aamiin.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat







Edisi ketujuh

DOSA AWAL

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

K

alau ditanya apa dosa yang pertama kali dilakukan makhluk terhadap Tuhannya dan siapa makhluk Tuhan tersebut? Jawabnya adalah: dosa yang pertama kali terjadi adalah kesombongan dan pelakunya adalah Iblis.
Peristiwa ini diabadikan Tuhan dalam kitab suci Al-Qur’anul Karim, yaitu pada peristiwa penciptaan Adam sebagai khalifah. Ketika itu iblis dan seluruh malaikat diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam. AS. Seluruh malaikat menuruti perintah tersebut kecuali iblis.
Perbuatan iblis tersebut dilakukan karena adanya perasaan lebih baik dan lebih sempurna dari Adam. Merasa diri lebih, menjadikan iblis tidak mau tunduk atas perintah Allah.

Ketidaktundukan Iblis terhadap perintah Allah karena merasa diri lebih sempurna inilah yang sering kita sebut SOMBONG. Akibat dari kesombongannya tersebut Allah menurunkan laknatnya hingga akhir zaman, pada diri Iblis dan segala keturunannya. Padahal sebelum ada perintah untuk tunduk pada Adam, Iblis adalah sosok yang sangat patuh dan tunduk pada Allah, beliau selalu bertasbih dan memuji Allah.
Kesalahan yang dilakukan Iblis tidak membuat dirinya merasa salah, bahkan ia menantang Allah dengan meminta izin kepada Allah agar ia dapat menggoda Adam dan seluruh keturunannya sampai akhir zaman. Iblis dengan segala daya upayanya akan selalu mengajak manusia untuk keluar dari jalan yang lurus; untuk ingkar kepada Allah.

Ia merasa dendam dan iri kepada Adam dan seluruh keturunannya. Perasaan dendam dan iri adalah buah dari rasa sombong. Tidak akan ada dendam dan iri apabila kesobombongan tidak ada.
Ketidakpatuhan iblis terhadap perintah untuk sujud kepada Adam karena Iblis merasa bahwa dirinya yang diciptakan Allah dari api lebih jauh sempurna dibandingkan Adam yang diciptakan dari lumpur yang menjijikan. Artinya Iblis membandingkan dirinya dalam perspektif “materi yang fisikal”. Padahal Allah memerintahkan untuk sujud kepada Adam AS diajarkan dalam terminologi Al-Qur’an “nama-nama” oleh Allah. Hal tersebut menunjukkan bahwa sujud tersebut bukan pada “fisik” Adam yang terbuat dari lumpur, tetapi penghormatan terhadap “nama-nama” yang telah diajarkan kepada Adam ; penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.
Dengan bekal pengetahuan terhadap “nama-nama” itulah, nantinya Adam akan sanggup menjalankan fungsi ke-khalifahannya di muka bumi. Hal inilah yang tidak disadari Iblis karena sifat sombongnya tersebut.
Dengan gambaran realitas yang telah digambarkan Allah dalam Al-Qur’an seperti yang telah diuraikan di atas, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa penghormatan terhadap para pecinta ilmu telah dipertontonkan Allah sejak masa awal sejarah hadirnya makhluk yang bernama manusia.

Mungkin karena inilah maka wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Muhammad SAW berbunyi Iqra’ yang artinya baca; Sebuah kosa kata yang sangat berkaitan dengan hal-hal yang bersifat pengetahuan.
Selain itu perbandingan diri yang dilkakukan iblis kepada Adam dari sudut fisik saja membuat sifat sombong Iblis teraktualkan. Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran berbagai bagi kita, bahwa dalam “memandang” sesama manusia jangan dilihat dari fisiknya belaka, karena dengan ini kita dapat terjerumus dalam dosa kesombongan. Allah sendiri tidak menilai manusia dari fisik dan materi tetapi dari sesuatu yang sangat substansial dari fungsi manusia yaitu ketaqwaan.

Sementara itu, di saat ini, kehidupan yang berideologikan fisik dan materi semakin tubuh subur sampai ke wilayah paling pelosok di dunia ini. Segala sesuatu diukur dari fisik materi saja. Ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Orang yang punya keluasan ilmu pengetahuan dan mempunyai sifat jujur belum tentu memperoleh akses kehidupan dengan mudah, sebaliknya, orang yang tidak jujur tetapi punya kekuatan fisik dan materi akan sangat mudah memperoleh akses kehidupan bahkan difasilitasi.Yang lebih tragis lagi, adalah ketika manusia menjual kedaulatannya dengan harga yang sangat murah-demi materil. Kejadian seperti ini biasa terjadi pada momen pemilu dan sebagainya.

Setidak-tidaknya ada tiga poin penting dari uraian kisah penciptaan khalifah pertama; yaitu:

1. Penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.
Allah akan mengangkat beberapa derajat orang yang berilmu pengetahuan. Ini yang dijanjikan Allah. Oleh sebab itu keinginan untuk menjadi orang yang haus akan ilmu pengetahuan dan terus tanpa henti-henti mengejar ilmu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai orang yang sedang berjihad di jalan Allah. Dan dengan ini pula Islam akan kembali menjadi agama yang berjaya, agama yang Rahmatan lil ‘alamin. Semoga…

2. Merasa diri lebih hebat (sombong)
Perbuatan sombong kalau ditelusuri secara mendalam pada dasarnya muncul karena adanya upaa untuk menutupi kekurangan diri, merasa malu kalau kekurangannya diketahui orang. Selain itu, keinginan untuk selalu dipuji, dapat juga memunculkan kesombongan. Jadi dengan demikian, kesombongan yang kita pertontonkan kepada orang lain adalah upaya untuk menipu diri sendiri dan pelan-pelan memasang jerat ke leher kehidupan kita sehingga pada saatnya kita akan selalu berada pada kehidupan yang semu, kehidupan yang absurd.

3. Kehidupan yang materialistis
Dalam filsafat ada suatu istilah yang berkaitan dengan poin ke 3 ini yaitu “reifikasi”; segala sesuatu yang diukur dengan materi.

Jadi, kalau iblis membandingkan dirinya secara materi kepada Adam, maka ia disebut “Iblis yang reifikatif”
Sedangkan kalau manusia yang menjadikan alat ukur kehidupannya dari sisi materi belaka maka ia disebut “Manusia yang reifikatif”.

Iblis-reifikatif dan manusia-reifkatif adalah identik, kedua-duanya akan membuat kualitas kehidupan manusia semakin jauh dari idealitanya. Tapi kalau kita menjadikan materi bukan sebagai alat ukur tapi “sarana” mudah-mudahan kehidupan ideal akan kita dapatkan, terutama kehidupan di akhirat kelak

Sebagaimana pula halnya dengan sosok Adam yang tubuhnya terdiri dari materi yang berwujud lumpur, bersemayan di dalamnya roh Allah dan kecerdasan ilmu pengetahuan.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat


Minggu, 02 Maret 2008

Edisi Keenam

ANDHIKA

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)


“Dengan mengucapkan Alhamdulillah hirobbil ‘alamin rapat pembentukan panitia kegiatan Tahun Baru Hijrah ditutup. Demikian kata pembawa acara sewaktu menutup rapat, yang telah berlangsung sejak pagi hingga sore dengan waktu istirahat hanya untuk sholat Zhuhur.
Andika dengan wajah sedikit kusut, setelah pamit dengan kawan-kawan, pulang dengan gontai menuju rumah kost yang belum lunas sewanya. Di perjalanan, terbayang olehnya ketika ia menyatakan kesediannya untuk menjadi ketua panitia.

Ia masih mempertanyakan atas keberaniannya menerima amanah tersebut. Apakah mampu ia untuk mengemban amanah yang terasa berat, ketika ia telah berada di luar ruang rapat.

Kadang timbul rasa optimis namun seketika itu juga rasa pesimisnya juga muncul. Namun sekarang ia tidak mau tahu dengan semua itu.
Hatinya telah bertekad, bahwa ia tidak akan mundur, ia tidak akan menarik kembali pernyataan kesediaannya untuk menjadi ketua panitia. Sukses atau tidak itu urusan nanti, demikian ia menguatkan tekadnya.
Sesampainya di rumah (gubug) hari telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Dan tercium bau kurang sedap dari arah dapur. Ternyata itu adalah bau nasi yang sudah 2 hari tidak ia makan, karena memang tidak ada “teman nasi” untuk dimakan. Dengan sedikit menggerutu ia mengamankan “aib dapur anak kost” tersebut.

Dengan perut yang agak melilit, karena memang belum diisi apapun kecuali secangkir kopi dan asap rokok, ia melangkah ke sumur, membasuh muka

untuk mengambil air wudhu. Terasa segar badannya ketika air suci itu menelusuri pori-pori wajahnya. Rasa hausnya terlepas tatkala ia memasukkan air ke mulut untuk “kumur-kumur” dan ditelannya air suci yang belum dimasak itu.

Sajadah dihamparkannya di ruang kamarnya yang pengap, yang penuh dengan hiasan kaligrafi. Ia pusatkan konsentrasinya kepada Yang Maha Agung, Maha Lembut. Ia coba lupakan panitia, ia lupakan perutnya yang keroncongan. Hanya Dia yang coba ia konsentrasikan.

Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah. Disucikan dirinya dari dosa-dosa yang melekat. Dan dengan tenang dia mengagungkan Sang Pemberi ketenangan dan masuk ke alam yang “asing”; dan dimana dia berada bukan pada dirinya, bukan pada alamnya. Tapi pada alam Allah, pada diri Allah Yang Maha memiliki.

Sejuta rasa ia tumpahkan seluruhnya ke Makkah; kiblat utama insan yang merindukan sesuatu yang “asing”; sesuatu yang selalu dirindukannya. Perasaan rindu, kasih cinta semakin dalam terasa ketika ia merendahkan pusat kesombongannya pada yang paling hina dari ke-Andhika-annya.

Perjalanannya semakin jauh menembus relung-relung kenikmatan rohani, semakin dekat kepada pusat kerinduan. Kerinduan yang menciptakan nikmat tiada tara; kenikmatan nur; kenikmatan cahaya mistis. Batinnya melangkah dengan pasti tanpa ada yang akan mampu menghentikan langkahnya.

Sesekali perutnya menggelapkan kenikmatan “cahaya mistis”, ketika sang usus melilit meminta jatah kerja. Hanya spiritual sucilah yang menghentikannya kebinalan usus itu. Dan ia bersyukur bahwa ia diberi kekuatan spiritual suci, hingga perjalanannya tidak terhenti.

Kemudian diselesaikannya perjalanan “aneh” tersebut. Walaupun ia merasa berat untuk menghentikannya, salam dan syukur yang murni dari hati nurani; itulah yang dapat dilakukannya, atas pemberian perjalanan tersebut. Segala Puji bagi-Mu, ya Allah, Engkaulah tuhanku, tuhan dimana aku dapat mengalami kedalaman hati nurani yang selalu merindukanmu.

···········

Kisah di atas menggambarkan sosok orang yang ingin mengabdikan dirinya pada suatu kegiatan yang membawa manfaat bagi sosial dan religi. Akan tetapi ada kendala ekonomi yang dihadapinya, namun demikian diantara beban ekonomis yang

disandangnya tidak menyurutkan tekadnya untuk memikul tanggung jawab sosial yang diamanahkan kepadanya. Keinginan dan dorongan yang kuat untuk berbuat kebaikan baginya merupakan manifestasi dari imannya kepada Allah SWT, yang telah menganjurkan untuk selalu berlomba-lomba berbuat kebaikan. Selain itu, karena kehidupan di dunia ini hanya sementara, maka tidak ada jalan lain agar ia mendapatkan tempat yang layak di akhirat nanti adalah dengan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dalam bentuk apapun.

Adapun kendala-kendala pribadi yang dihadapinya, seperti kemiskinan, memang menghalangi tekad dan niatnya untuk mengabdi kepada Allah, untuk itu ia selalu menguatkan mental spiritualnya melalui ritual-ritual agama. Ia sangat meyakini bahwa apabila hal tersebut dilakukan maka Allah pasti akan meringankan beban dan memberikan kekuatan mental-spiritual, sebagai bekal utama dalam ia melaksanakan kebaikan. Dalam ritus ibadah yang dilaksanakannya tertuanglah segala asa dan harapan yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Segala.

Dengan kekhusyukan yang dibangun tersebut maka tumbuhlah rasa ikhlas yang menjadi senjata pamungkas baginya untuk menghilangkan beban-beban duniawi yang mengganggu kerja-kerja sosial-religius yang sedang dibangunnya.
Baginya hanya yang seperti inilah yang dapat dipersembahkan kepada Tuhannya. Ia memang tidak banyak tahu tentang ilmu agama tapi bukan berarti tidak dapat berbuat untuk agama. Agama baginya adalah kerja bukan hanya bicara, orientasi hidupnya hanya untuk akhirat yang dilandasi dengan kegiatan (amal-sholeh) selama di dunia.
Yang penting baginya bahwa pengetahuan yang minim dan tekanan ekonomi yang dihadapinya bukan berarti tidak dapat berbuat untuk sosial dan agama, orang itu bernama ANDHIKA.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat




Edisi Kelima

SYAHADAT

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

Setiap manusia yang mengaku Muslim, adalah orang yang selalu tunduk dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Segalanya. Hal ini sesuai dengan kehendak syahadat yang senantiasa kita ikrarkan. Ikrar yang kita ucapkan dalam syahadat mengandung beberapa hal, yaitu:

1. Pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan;

2. Muhammad adalah Rasul Allah

Dari pernyataan syahadat tersebut dapat kita analisa beberapa hal sebagai berikut:
“Bahwa untuk bertuhan yang sejati kita harus membunuh Tuhan-tuhan selain Allah”

Pada zaman awal Islam Tuhan-tuhan palsu berbentuk patung-patung yang disembah yang padanya ditempelkan mitos-mitos kehebatan pada patung tersebut. Pada zaman sekarang Tuhan-tuhan palsu tidak lagi hanya berbentuk patung-patung tapi juga berupa paham (isme) yang diyakini dapat membawa kebahagiaan yang hakiki pada diri manusia.

Paham-paham tersebut menjadi Tuhan, apabila paham tersebut diposisikan sebagai sesuatu yang menggantikan kekuasaan Tuhan yang sejati. Untuk mengetahui paham apa saja yang telah menjadi Tuhan-tuhan palsu,

kita dapat memulainya dengan mendalami tentang Tuhan sejati yaitu Allah SWT.

Pendalaman tentang Allah SWT dapat dimulai dari mengenali sifat-sifatnya. Apabila sifat Allah tersebut telah kita pahami maka kita bandingkan dengan dengan sifat paham-paham yang berkembang sekarang. Perbandingan tentang sifat Allah dan sifat paham-paham tersebut inilah yang kemudian dapat menentukan kepribadian muslim yaitu: kalau si muslim tersebut lebih meyakini sifat Allah SWT dengan mengambilnya sebagai pilihan hidup maka jadilah ia sebagai muslim yang sejati, begitu juga sebaliknya.

Dengan cara ini dapat diukur kualitas kemusliman seseorang. Umpamanya kalau diyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagai Yang Maha pemberi rezeki, maka tidak akan terjadi ada orang dalam memperoleh rezeki dilakukan dengan cara-cara yang dilarang olehNya, seperti, dengan cara mencuri, korupsi, berbohong, sogok menyogok dan sebagainya.

Kalau cara tersebut masih dilakukan maka dapat dikatakan keyakinan terhadap Allah SWT sebagai Maha pemberi rezeki belum dimiliki dengan sempurna, atau dengan kata lain ada keraguan terhadap sifat Allah tersebut, dan lebih meyakini paham yang mengajarkan bahwa untuk memperoleh rezeki boleh dilakukan dengan cara-cara yang tidak halal.

Kejadian seperti ini artinya menciptakan Tuhan-tuhan baru selain Allah. Padahal, sesuai dengan keinginan dan konsekuensi dari syahadat bahwa paham seperti ini harus dibunuh karena telah menjadi Tuhan baru. Selanjutnya, setelah sifat Allah SWT kita ketahui dan yakini, maka langkah selanjutnya adalah pendalaman tentang diri Rasul Allah yaitu Muhammad SAW.

Muhammad SAW harus dijadikan suri tauladan bagi setiap muslim. Menjadikan Muhammad SAW sebagai suri tauladan dapat kita lakukan apabila kita mendalami shirah Muhammad, melalui hadits-haditsnya maupun sejarah kehidupannya.
Bagaimana mungkin kita dapat menjadikan Muhammad sebagai tauladan tanpa mengetahui siapa Muhammad SAW tersebut.
Cukup tragis terjadi pada umat Islam, apabila lebih mengetahui sejarah hidup selebritis dibanding Rasulnya, karena memang mereka lebih senang mengenal selebritis tersebut dibanding Muhammad SAW. Bahkan mereka yang dengan sepenuh hati berupaya mencontoh kehidupan Rasul dicemooh dengan berbagai cemoohan.
Pengingkaran terhadap kekuasaan Allah SWT dan tidak mengenal sosok Muhammad SAW menjadikan umat Islam semakin terpuruk dalam kancah peradaban dunia.

Kondisi yang seperti inilah menjadi problem utama umat Islam sekarang ini, sehingga Islam hanya menjadi agama yang sempurna di ajarannya tapi tidak pada umatnya. Keyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna hanya pada kitab suci Al-Qur’an , tidak ditemui pada umatnya.

Maka sangat berbahaya kalau syahadat hanya dapat diucapan tapi tidak diketahui konsekuensi dari syahadat tersebut. Karena itu, memang tepat, dalam rukun Islam syahadat diposisikan pada nomor urut pertama, karena ia adalah pondasi bagi umat Islam. Tidak mungkin bangunan menjadi kuat tanpa pondasi yang kuat; tidak mungkin umat Islam dapat kuat kalau pondasinya (yaitu syahadat) tidak dihayati oleh umat Islam.

Kalau kita menginginkan Islam akan kembali menjadi peradaban besar, seperti yang pernah terjadi di Madinah pada masa Rasulullah dulu, sempurnakanlah syahadat. Jadikan syahadat sebagai tolok ukur pada setiap aktivitas kehidupan.
Mengingat begitu strategisnya fungsi syahadat dan begitu bahayanya apabila syahadat kita sepelekan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mulai memperbaharui syahadat, mendalami maknanya, dan mempelajari konsekuensi-konsekuensi syahadat, kecuali kalau kita memang tidak menginginkan Islam berjaya dan tidak menginginkan selamat dunia dan akhirat!
*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat








Edis Keempat

KELUARGA KUNCI KESUKSESAN

Oleh Beni Rasdiwansyah*)

Keluarga merupakan pondasi pertama seseorang dalam mengarungi kehidupan ini, karena


keberhasilan dan kegagalan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor keluarga namun tidak semua ini mempengaruhinya, masih banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
Maraknya kasus penganiayaan terhadap orang tuanya, misalnya dengan melakukan pemukulan ringan sampai berat bahkan adapula yang membunuh orang tuanya sendiri.(Nauzubiillah min dzalik). Adapula anak yang broken home, anak mencari perhatian di luar, mencari identitas diri yang tidak dibimbing oleh kedua orang tuanya, yang akibatnya anak salah pergaulan, minum-minuman, narkoba dan lain-lainnya. Anak hanya diberi secara kebutuhan materi saja tanpa diimbangi dengan kebutuhan sprituil. Adapula kasus orang tua yang melakukan korupsi di tempat kerjanya sehingga membuat malu anggota keluarga, keluarga menjadi minder menghadapi lingkungan sekelilingnya.
Dari kejadian-kejadian di atas maka dapat kita tarik permasalahan? Mengapa ini terjadi? Dan bagamana kita menyikapi masalah ini?
Menurut KH. Abdullah Gymnastiar penyebab mengapa ini terjadi, diantaranya:

· Karena dia (orang tua) tidak pernah punya waktu yang memadai untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh, karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
· Sebagian orang tua hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman,
kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.

Adapun yang perlu kita lakukan dalam menghadapi ini, maka perlu diupayakan:

· Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
· Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
· Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan

pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.

· Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain. Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluarga banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.

· Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik.
Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan staf pengajar di salah satu SMK Swasta.





Edisi Ketiga

MANUSIA DAN FUNGSINYA

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menjalankan fungsinya sebagai ”Hamba Allah” dan ”Khalifah di muka bumi”. Kedua fungsi manusia di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada 2 (dua) hubungan yang mesti dijalaninya, yaitu: ketika berhadapan dengan sang Khalik, fungsi yang dijalankan adalah fungsi hamba Allah, kemudian ketika berhadapan dengan selain sang Khalik fungsi yang dijalankan adalah fungsi khalifah. Pelaksanaan kedua fungsi tersebut dilaksanakan oleh manusia tidak dalam waktu yang berbeda, akan tetapi, ketika manusia ingin ”sukses” dalam mejalankan kekhalifahannya harus disertai dengan perasaan tunduk dan patuh pada perintah Allah (fungsi Hamba Allah); begitu juga sebaliknya, sempurnanya fungsi ”Hamba Allah” digambarkan dalam kesuksesannya dalam menjalankan fungsi ”kekhalifahannya”.

Jadi, fungsi hamba Allah dan khalifah ibarat 2 sisi mata uang, ”berbeda tapi tidak dapat dipisahkan” Terjemahan firman Allah yang relevan dalam fungsi manusia sebagai khalifah adalah sebagai berikut:


”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesunggunya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S : Al-Jatsiyah/45 :13)
selain itu Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk ciptaan yang terbaik (Q.S : At-Tiin/95 : 1 – habis)

Dari dua point penjelasan Al Qur’an di atas dapat diambil suatu makna yang menjelaskan bahwa terdapat konsep penundukkan alam untuk manusia. Konsep itu sekaligus juga berhubungan dengan ”design” Tuhan bahwa manusia adalah puncak ciptaanNya. Maka sebagai makhluk tertinggi, manusia harus ”melihat ke atas” hanya kepada Allah, kemudia kepada sesamanya harus melihat dalam garis mendatar yang rata, dan kepada alam harus melihat ke bawah, dalam arti melihatnya dengan kesadaran bahwa dalam hirarki ciptaan Tuhan, alam adalah lebih rendah daripada dirinya.
Oleh karena itu semualah, maka perilaku syirik dikategorikan sebagai dosa terbesar, Tuhan membenci syirik bukan karena dengan perbuatan tersebut kekuasaannya akan berkurang atau Tuhan cemburu, akan tetapi karena manusia merendahkan martabat kekhalifahannya sendiri sebagai makhluk yang paling sempurna ciptanNya dibandingkan ciptaan Tuhan yang lain.
Konsep tentang fungsi manusia ini harus benar-benar dipahami oleh setiap manusia muslim agar dapat memposisikan diri pada posisi yang tepat yaitu: hanya tunduk pada Tuhan, tidak melakukan kezaliman/memandang rendah pada
sesama dan menjadikan alam sebagai alat untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, melakukan penindasan kepada sesama manusia dan menjadikan alam sebagai Tuhan-Tuhan tandingan.
Banyak contoh-contoh perbuatan manusia yang lari dari fungsinya sebagai manusia, umpamanya berjudi, berzinah, minum khamar dan sebagainya. Perbuatan ini bentuk dari kesombongannya kepada Tuhan karena Tuhan melarang perbuatan tersebut; setiap bentuk pelanggaran terhadap perintah Tuhan sebenarnya merupakan manifestasi kesombongan manusia terhadap Tuhannya.

Contoh lainnya seperti tindakan korupsi, pembunuhan, penganiayaan dan sebagainya adalah merupakan bentuk perbuatan yang tidak menghormati harkat dan martabat sesama manusia. Contoh yang berkaitan dengan penyerahan diri yang berlebihan pada alam antara lain adalah praktek-praktek ritual yang berbentuk penyembahan pada selain Allah dan percayai bahwa kalau ritus-ritus tersebut tidak dilaksanakan maka bencana akan menimpa manusia.
Kerugian manusia karena syirik terwujud dalam ketundukan apriori dirinya kepada alam atau unsur alam yang dipujanya atau yang sekurangnya dipercayai memiliki kemampuan lebih daripada yang secara hakiki dan wajar terdapat pada alam atau unsur alam itu. Dengan syiriknya itu, manusia merosot dari kedudukannya sebagai makhluk yang mengatasi alam menjadi makhluk yang berada dibawahnya.
Sebab masih sering ditemui, banyak manusia yang berlaku sombong pada Tuhan, kedudukannya sebagai makhluk yang mengatasi alam menjadi makhluk yang berada dibawahnya.

”Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Q.S : Al-Hajj/22 : 31)
Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi diperlukan ilmu pengetahuan, tanpa ini fungsi khalifahnya akan tidak sempurna. Peranan ilmu pengetahuan inilah yang nantinya akan menentukan kualitas kekalifahan seseorang. Logikanya, semakin tinggi ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang akan semakin berkualitas kekhalifahannya yang dijalankannya, karena dengan ilmu pengetahuan itulah manusia akan dapat menundukkan alam.

Meskipun demikian bukan berarti hanya ilmu pengetahuan yang dapat menyempurnakan fungsi kemanusiaan, ilmu pengetahuan juga dapat menjatuhkan martabat kemanusiaan, maka untuk menghindari kejatuhan, manusia memerlukan petunjuk Ilahi, sebagai ”spiritual safety net”. Dengan petunjuk Ilahi itu disertai kedalaman ilmu pengetahuan manusia akan tidak tersesat dari fungsinya Kelengkapan lain yang perlu dimiliki manusia dalam menjalankan fungsinya adalah kebebasan, namun tetap mengenal batas pelanggaran terhadap batas itu membuat manusia jatuh tidak terhormat. Dorongan untuk melanggar batas ialah nafsu serakah, yaitu perasaan tidak pernah puas dengan anugerah Tuhan.
Sebagai penutup dari tulisan ini, kami sampaikan satu ayat dari Al Qur’an sebagai bahan renungan yaitu sebagai berikut:

Ingatlah ketika TuhanMu berfirman kepada para malaikat: ”sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: ”Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Tuhan berfirman: ”sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S Al Baqarah/2:30).
*)Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat