Kamis, 10 April 2008

Edisi Pertama No 11

GLOBALISASI

Oleh: M. Azam Prihatno Azwar*)

S

aat ini kita hidup di zaman yang penuh dengan keterbukaan. Setiap sudut isi muka bumi bahkan sampai ke perut bumi dapat dilihat dengan relatif mudah oleh kita. Seakan-akan tidak ada lagi hal yang bisa disembunyikan. Inilah keajaiban yang disebabkan dengan semakin canggihnya teknologi informasi. Kondisi seperti ini yang sering disebut orang dengan “era informasi”. Era dimana setiap orang dapat saling berkomunikasi seakan-akan tanpa dibatasi jarak. Manusia yang hidup di ujung dunia yang satu dengan ujung dunia yang lain dapat berinteraksi secara komunikatif dalam kecepatan nano second-sekejap mata.

Hal tersebut mengingatkan kita pada zaman Nabi Sulaiman as. Ketika itu beliau meminta kepada jin dan manusia yang bisa memindahkan dengan cepat singgasana Ratu Balqis. Jin Ifrit dapat memindahkan singgasana Ratu Balqis yang berjarak ratusan km sebelum Nabi Sulaiman a.s berdiri dari singgasananya, namun seorang hamba Allah yang shaleh dapat memindahkan singgasana tersebut dalam sekejap mata saja.

Dulu fenomena seperti itu dapat dikategorikan sebagai kejadian yang sangat luar biasa, tapi saai ini peristiwa tersebut buka mustahil dapat dilakukan oleh siapa saja yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Pesatnya kemajuan teknologi informasi yang ditunjukkan dengan berseliwerannya ratusan satelit komunikasi di orbit geostationer bumi kita dan ribuan kilometer kabel serat optik di samudera kita. Sehingga kita di muka bumi ini seakan-akan, hidup di sebuah desa saja, hal ini oleh para ahli komunikasi biasa disebut hidup di “desa global” (global village).

Inilah globalisasi. Segala kejadian di muka bumi ini dapat kita ketahui dengan sangat cepat. Peristiwa bom bunuh diri di Irak dapat kita saksikan tanpa harus berkunjung ke sana. Pesan jihad yang disampaikan oleh Osama Bin laden dapat kita ketahui tanpa tahu dimana ia berada.

Globalisasi ternyata selain membawa nikmat juga nerupakan laknat bagi umat muslim. Karena informasi-informasi sesat yang merusak moral dan spiritual manusia juga dapat kita akses dengan sangat mudah, yang dapat berakibat pada rusaknya moral dan kekeringan spiritual (pseudo-spirituality). Moral dan spiritual umat Islam tercabik-cabik membentuk suatu sistem moral baru dan spiritual yang semu.

Kita saksikan bagaimana pesan moral yang terdapat pada Surat An Nuur 30 – 31 diinjak-injak dengan semena-mena oleh ”penguasa” teknologi informasi. Allah, seperti yang termaktub dalam QS An Nuur 30 – 31, menyuruh kita untuk ”menundukkan pandangan” dalam artian menahan nafsu syahwat agar tidak diumbar bebas. Namun ternyata jangankan untuk menahan pandangan, gambar-gambar tidak senonoh bisa dengan bebas disaksikan bahkan sampai ke kamar tidur anak-anak kita. Selain itu informasi-informasi “haram” menjadi tidak haram lagi karena dapat diperoleh dengan bebas oleh siapapun tanpa dibatasi jarak dan umur.

Dengan demikian, globalisasi dapat menjadi alat penjajahan modern bagi umat Islam apabila kita tidak siap mengantisipasinya. Siapa yang menguasai teknologi informasi dialah yang akan menguasai manusia, dan segala kemampuannya dapat melakukan penjajahan. Bukan penjajahan kuno tapi penjajahan modern yaitu penjajahan terhadapa moral dan spiritual manusia.


Saat ini ada sekitar 200.000 situs porno yang berkeliaran di internet dimana penikmatnya rata-rata anak muda berusia 16 tahun ke bawah dan 500 video porno asli Indonesia yang pemainnya sebagian besar anak sekolah menengah (informasi di dapat dari RRI Pro 3 pukul ± 20.00 WIB tanggal 9 April 2008). Kita bisa bayangkan betapa hancurnya akhlak umat Islam, sehingga pada saat ini kejadian hamil di luar nikah buka suatu yang memalukan lagi. Pemerkosaan hampir setiap hari kita dengar terjadi di sekitar kita. Hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak lagi dibalut oleh kesucian cinta tapi dilingkupi oleh nafsu liar yang tidak beradab.

Selain itu pencitraan umat Islam di bentuk sedemikian rupa hingga umat Islam identik dengan agama yang penuh dengan kekerasan. Apabila kita mendengar kata terorisme maka otak kita secara tidak sadar langsung mempersepsi bahwa pelakuknya umat islam. Islam identik dengan terorisme!

Kalau kita melihat perempuan muslim yang berpakaian agak lain dari ”kebiasaan”. Umpama yang bercadar dan berjilbab panjang, warna hitam, maka akan muncul sinisme di diri kita, sedangkan perempuan yang dengan santainya mempertontonkan auratnya malah dianggap sebagai wanita modern, wanita yang tidak ketinggalan zaman. Ibu-ibu dengan bangganya menceritakan bahwa anaknya yang masih bersekolah di TK sudah dapat ”bergoyang Inul”, suatu goyang erotik yang pernah menghiasai hampir seluruh media massa di negeri ini, baik media cetak maupun media elektronik

Kesemua itu terjadi karena pesatnya kemajuan teknologi informasi yang mengakibatkan globalisasi. Ahli otak mengatakan bahwa setiap informasi yang kita tangkap maka akan merubah beberapa susunan syaraf di otak kita selanjutnya akan membentuk suatu persepsi baru di diri kita sesuai dengan bentuk informasi yang tertangkap. Jadi, kalau informasi yang terdeteksi oleh otak kita mengenai hal-hal yang bersifat porno, maka lama kelamaan otak kita akan membentuk persepsi yang bersifat porno sehingga kepornoan menjadi bagian pada diri kita.

Kalau demikian apakah kita harus bersembunyi dari arus globalisasi? Kita tidak dapat sembunyi dari globalisasi. Kita harus menghadapinya.

Dalam menghadapi era globalisasi, untuk menjadikannya sebagai nikmat bagi umat Islam, tidak ada jalan lain kecuali peningkatan efektivitas dakwah, karena dakwah juga merupakan aktivitas komunikasi, dengan cara-cara sebagai berikut:

1. makna komunikator (pendakwah) harus diperluas, bukan hanya tugas ustad atau mubaligh, akan tetapi semua kita mempunyai tugas keda’ian.isi

2. pesan dakwah juga harus diperluas, bukan hanya merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah belaka tapi juga pada sumber-sumber yang mencakup universum, langit bumi dan segala yang ada di antara keduanya.3.

3. media dakwah juga harus diperluas, semua media massa, seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, internet dan sebagainya dapat dijadikan media untuk berdakwah.

4. target audiens diperluas, bukan hanya pada mereka yang ada di masjid, juga kepada mereka yang ada di kantor-kantor, pasar bahkan pada daerah-daerah yang penuh kemaksiatan seperti di lokalisasi dan dunia hiburan malam.

5. memperhatikan feedback (umpan balik) dari audiens dakwah agar kita bisa merubah strategi dakwah apabila pola yang kita pakai tidak efektif.

Dengan memperhatikan ke 5 point di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita tidak perlu lari dari globalisasi, namun justru dengan gloabalisasi itu pula kita dapat memperluas dakwah. Globalisasi dapat membuat para pendakwah dengan mengeluarkan energi yang kecil dapat mengasilkan hasil yang maksimal. Asal saja kita dapat menguasai teknologi informasi. Namun perlu diingat bahwa para produsen kemaksiatan juga memanfaatkan teknologi informasi.

Oleh karena itu, kalau Nabi Muhammad SAW dulu berjihad melawan kemaksiatan dengan mengggunakan pedang, kita yang hidup di era globalisasi berjihad dengan menggunakan teknologi informasi untuk melawan kemaksiatan. ??

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat






Jumat, 04 April 2008

Edisi Pertama No 10

HIJRAH SEBAGAI SARANA MEREGUK CINTA KASIH ALLAH

Oleh : Ir. Ibrahim Ratin, M.Pd *)


Kau datang waktu gelap menye-luruh, saat musafir kehilangan arah, di tengah sahara terasing sesama, dalam kegerahan hati tinggal sendiri, kala itu sinar cintaMu memancar, harapan tumbuh menyemai para musafir lalu


A. IFTITAH
Kehidupan manusia penuh keluh kesah, ketakutan dan kegerahan, yang kaya takut jatuh miskin, yang miskin takut kelaparan, yang bekerja takut kehilangan pekerjaan, dan belum bekerja takut tidak dapat pekerjaan. Memang hidup manusia penuh semak belukar, tantangan dan cobaan. Akan tetapi kesemuanya itu tidak perlu disikapi dengan ketakutan-ketakutan yang berlebihan,karena Allah Maha Rahman dan Maha Rahim.

Dewasa ini banyak manusia yang terbelenggu dengan romantisnya kehidupan materialistis, sehingga tanpa disadari hidup mereka terancam kehilangan makna, tanpa arah yang pasti. Padahal gemerlap materi hanya mampu memberikan kenikmatan sesaat. Sementara gonjang-ganjing kehidupan materialistis dapat membuat manusia menjadi lelah, jenuh, dan salah jalan. Hidup seperti ini akan terasa gersang dan jauh dari nikmat.
Fenomena (gejala) kehidupan seperti ini pernah digambarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, beliau bersabda:

“Akan datang suatu masa, dimana kehidupan tidak dapat dicapai dengan layak, kecuali dengan maksiat. Apabila tiba masa itu padamu, maka larilah kamu (hijrahlah) ke jalan Allah”

Hadits di atas menggambarkan betapa sulitnya zaman yang akan dihadapi umat manusia. Kehidupan yang layak (dalam artian materi) hanya dapat dicapai dengan cara-cara maksiat. Tanda-tanda zaman itu, sebenarnya telah tiba dikehidupan kita saat ini. Ibarat Musafir, kita berada di persimpangan jalan yang penuh semak belukar, jika salah memilih jalan maka tersesatlah kita. Banyak orang yang sepintas kehidupannya terlihat penuh dengan kesenangan. Akan tetapi kesenangan itu berwujud materi dengan tanpa dilengkapi kesenangan spirituil (rohani). Karena itu tidak heran bila kita menemukan banyak orang kaya yang mengalami stress. Dengan kekayaannya mereka berusaha mencari kepuasaan hidup yang sebetulnya tidak ada ujungnya, sampai akhirnya mereka lelah sendiri. Memang tanpa kenikmatan spiritual orang bisa menjadi stress. Jika yang kaya bisa stress apalagi yang miskin. Jika pejabat saja bisa stress apalagi yang kehilangan jabatan. Jadi intinya disini adalah Manusia sejati membutuhkan kenikmatan spiritual. Jika rohaninya nikmat, maka hidup menjadi nikmat dan bermakna.

B. KEMBALI KE JALAN ALLAH

Sebagai solusi untuk mengantisipasi pengaruh zaman yang kian tak menentu, Rasulullah SAW menghimbau ummat agar kembali ke jalan Allah dengan cara hijrah dari hiruk-pikuk kehidupan duniawi.. Hijrah disini tidak berarti meninggalkan semua aktivitas duniawi, akan tetapi lebih berarti lebih ditekankan kepada upaya

memperoleh serta mempergunakan berbagai fasilitas duniawi dengan cara-cara yang di Ridhai Allah SWT, sehingga keseluruhannya bernilai ibadah. Mencari nafkah harus dilaksanakan dalam konteks ibadah, bahkan Islam menyetarakan perbuatan mencari nafkah yang dilakukan secara benar dan ikhlas adalah sama nilainya dengan seseorang yang sedang berjihad di jalan Allah.

Hijrah ke jalan Allah berarti menyerahkan dan menghambakan diri secara paripurna kepada Allah dengan tanpa meninggalkan keharusan berikhtiar, Faidza Azzanta Fatawakkal’alallah (berikhtiar semaksimal mungkin sembari bertawakkal kepada Allah). Hasil yang diperoleh dari ikhtiar ini harus dimaknai sebagai nikmat dari Allah yang wajib disyukuri. Allah berfirman:
“Barang siapa yang mensyukuri nikmatKu, niscaya ku akan tambah nikmat itu. Barang siapa yang kafir karena nikmat itu, ingatlah azabKu amatlah pedih” (Q.S. Ibrahim : 7).

Ciri-ciri orang yang hijrah ke jalan Allah diantaranya adalah:

1. orang-orang yang senantiasa mengarahkan seluruh aktivitas hidupnya dalam rangka ibadah kepada Allah (la ghayah illa Allah)

2. orang-orang yang mencintai Allah melebihi dari segala yang dicintainya (assyaddu hubbal lillah)

3 orang-orang yang lkhlas dalam menjalankan ibadah dan da’wah (mukhlisiina lahuddin)

4. orang-orang yang senantiasa bersyukur

5. orang-orang yang basah bibirnya karena berdzikir (dzikrullah)

6. orang-orang yang konsisten dalam iman dan ibadah (istiqomah)

7. orang-orang yang baik interaksinya terhadap sesama insan (hablumminannaas)

8. orang-orang yang jauh dari perbuatan maksiat

9. orang-orang yang tidak menyom-bongkan dirinya baik dalam perilaku sosial maupun dalam menunaikan tugas agama

10. orang-orang yang senantiasa berkurban dan berjihad di jalan Allah


C. MEREGUK CINTA KASIH ALLAH

Orang-orang yang berhijrah karena Allah dijamin akan merasakan nikmatnya hidup dalam iman. Hidupnya penuh ketentraman, kedamaian, rasa optimis dan terlepas dari berbagai bentuk ketakutan. Mereka akan memperoleh kenikmatan spiritual yang tidak dapat dilukiskan. Bagi mereka hidupnya dalam jaminan Allah, sebagaimana firmanNya:

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan keluarkan dia dari segala kesulitan. Dan memberikan mereka rezeki dari sumber yang tidak terduga” (Q.S At Thalaq : 2 – 3)

Orang-orang yang berhijrah adalah orang-orang yang senantiasa merendahkan diri di mihrab tempat sujud mereguk cinta kasih Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah-pun mencintai mereka. Merekalah ummat yang disebut dalam Surat Al-Maidah ayat 54 :

“Allah akan mendatangkan suatu ummat yang dicintaiNya dan mencintaNya”
Dalam implementasinya, mereka selalu mengikuti jejak Rasulullah SAW, sebagaimana firmanNya:
“Jika kamu mencintai Allah, maka turutilah aku (Rasul) niscaya Allah akan mencintaimu” (Q.S. Ali Imron : 30)

D. KHOTIMAH
Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan beberapa syair dari Rabi’ah al ‘Adawiyah (713 – 801 Hijriyah) yang isinya sebagai berikut:
“Aku mengabdi pada Allah bukan karena takut pada Neraka, dan bukan pula ingi masuk surga, tapi kesemuanya karena cintaku padaNya”. Tuhanku, jika kupuja Engkau karena takut pada neraka, maka biarkanlah aku masuk didalamnya; jika kupuja Engkau karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah surga itu dari padaku; Tetapi jika Engkau kupuja semata-mata karena cintaku padaMu, maka janganlah sembunyikan kein-dahanMu yang kekal itu dariku.
*) Penulis adalah mantan ketua umum HMI CabangI Bengkulu





Senin, 31 Maret 2008

Edisi Pertama No 9

TAQWA

Oleh: Andy Wijaya*)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. 49 : 13)

Ayat di atas diawali dengan pemaparan fakta kesinambungan naluri manusia untuk hidup berkolektif, yaitu seorang laki-laki, seorang perempuan, bangsa dan suku. Fakta ini lebih merupakan “tanda material” bagi manusia untuk saling kenal mengenal. Dan juga menyiratkan kesetaraan manusia dalam perspektif gender maupun komunitas. Artinya tak ada yang lebih unggul dari seorang laki-laki atas perempuan atau sebaliknya, juga tak ada yang lebih unggul suatu suku atas suku yang lain dan suatu bangsa atas bangsa lain. Cara Pandang yang seperti inilah yang dimaksudkan oleh Kuntowijoyo sebagai liberasi-humanisasi, bahwa perintah Allah selalu berkesesuaian dengan fitrah manusia sekaligus membebaskan manusia dari tawanan sesuatu yang bersifat material.

Fakta sosial-historis memperlihatkan bagaimana hidupnya pandangan bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan pada berbagai kebudayaan dan peradaban. Bahkan pada berbagai momentum, terutama politik, muncul pandangan bahwa perempuan tak bisa menjadi pemimpin dengan berbagai argumen yang juga didasari atau mengacu pada nilai-nilai agama. NAZI Jerman adalah bentuk dari pandangan yang menganggap Ras Arya (bangsa Jerman) sebagai ras manusia yang paling unggul dibanding ras yang lain. Begitu juga dengan bangsa Yahudi yang menganggap mereka sebagai bangsa pilihan.

Pernyataan “agar saling kenal mengenali” mengharuskan manusia untuk saling mempelajari antar budaya berbagai bangsa dan suku. Kemampuan kenal mengenali, kalau mampu dipraktekkan oleh umat Islam, maka umat Islam akan lebih mampu menegaskan posisinya sebagai umatan wasathan (umat tengah-tengah).

Lalu, dimana letak keunggulan manusia? Meneruskan ayat Al Qur’an di atas, maka letak keunggulan tersebut adalah yang paling bertaqwa di antaramu. Kata taqwa menjadi kata kunci untuk kita mendapatkan pengertian. Pengertian taqwa dapat kita pahami seperti pada Q.S Al Baqarah ayat 2-5 dan 177 (masih banyak ayat-ayat lain), yaitu mereka beriman pada Allah, pada yang gaib, pada Kitab Suci, pada malaikat; menegakkan sholat; membayar zakat; menafkahkan sebagian rezeki yang didapat; menepati janji bila berjanji; menyantuni anak yatim, fakir miskin, musafir; orang-orang yang sabar dalam kesempitan. Ini artinya taqwa adalah akumulasi dari iman (keyakinan atau tujuan hidup), ilmu (pedoman untuk menentukan arah yang dilakukan) dan amal (bagaimana mewujudkan tujuan).

Dengan begitu seseorang laki-laki dikatakan lebih baik dari seorang perempuan atau suatu bangsa atas bangsa yang lain atau suatu suku atas suku yang lain lebih dikarenakan ia memiliki keyakinan hidup, tahu arah yang dituju dan mampu mewujudkannya ke dalam bentuk aktivitas-aktivitas nyata. Dan umat Islam sebagai khairu ummah (umat yang terbaik) tentunya harus mewujudkan konsepsi bertaqwa dalam kesehariannya. Dan sesungguhnya hanya orang-orang yang bertaqwa akan menemukan kebenaran Al Quran (QS. Al Baqarah/2 : 2) dalam hidupnya.

Problema taqwa dalam konteks ”saling kenal-mengenali” apabila tidak dipraktekkan dalam kehidupan nyata sehari-hari maka dapat mengakibatkan disintegrasi sosial. Hal ini terjadi karena suatu kelompok masyarakat yang enggan untuk mempelajari kelompok masyarakat yang lain dapat menumbuhkan rasa lebih unggul dari kelompok lain sehingga penindasan dan intoleransi sangat mungkin untuk terjadi.

Penjelasan konsep Taqwa seperti yang dipaparkan di atas, mengarahkan kehidupan Muslim untuk menterjemahkan konsep Taqwa pada hal yang sifatnya lebih luas, yaitu pada kehidupan bermasyarakat dan berbangsa bukan hanya pada konsep Taqwa yang bergerak pada wilayah individual.

Dengan kata lain seseorang dapat dikatakan bertaqwa diawali dari ketaqwaan individual kemudian dioperasionalisasikan pada kehidupan sosial-kemasyarakatan.

Jadi, dengan demikian kualitas ketaqwaan seseorang tidak bisa hanya diukur dari praktek-praktek ibadah yang sifatnya individual, tapi juga harus dilihat dari seberapa besar manfaat seseorang dalam kesehariannya pada masyarakat; sebagai bentuk manifestasi dari ketaqwaan individualnya.

*) Penulis adalah Sekretaris KAHMI Wilayah Bengkulu Periode 2007 - 2012



Jumat, 21 Maret 2008

Edisi kedelapan

MAULID NABI; QUO VADIS ?

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

P

ada tanggal 20 Maret 2008 ini bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1429 H, suatu hari yang sangat bersejarah, bukan hanya bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh umat manusia. Karena, pada hari tersebut, tepatnya pada tahun 570 M atau 53 tahun sebelum Hijrah, lahirnya sesosok manusia yang nantinya akan mempelopori sebuah revolusi peradaban dunia; peradaban yang penuh dengan keteraturan kemajuan yang transendental. Manusia tersebut bernama Muhammad Rasul Allah SAW.

Perjalanan hidup beliau dipenuhi dengan perjuangan revolutif, baik phisik-material maupun mental-spiritual. Bahkan perjalanan revolutif beliau tersebut membawa perubahan terbesar dalam sejarah kehidupan umat manusia. Beliau menjadi sosok yang teguh dalam menegakkan keadilan, konsisten dalam menundukkan kelaliman dan memiliki rasa belas kasih yang tak terperi.

Dengan kebesaran dan kemuliaan yang dimilikinya membuat manusia seluruh dunia memperingari hari lahir beliau dengan penuh cita-cita dan harapan agar dapat selalu mengambil hikmah dari kehadirannya di muka bumi, demi kepentingan umat manusia itu sendiri. Maka, oleh karena itu, diciptakanlah berbagai macam seremoni agar peristiwa kelahiran beliau tersebut bisa “berkesan” bagi yang memperingatinya, meskipun beliau tidak pernah menganjurkan umatnya untuk memperingati hari lahirnya. Mulai dari yang sangat sederhana, seperti mengadakan ceramah seputar hari lahir beliau, sampai dengan kegiatan yang penuh dengan nuansa mistis, seperti yang biasa kita saksikan pada sebagian masyarakat kita.

Terlepas dari apa yang dilakukan umat dalam memperingati hari lahir beliau, yang terpenting perlu kita sikapi dari peristiwa ini adalah seberapa besar

manfaat yang bisa kita ambil untuk kehidupan umat manusia, kini dan masa mendatang. Jangan sampai kegiatan yang dilakukan terjebak pada suatu rutinitas yang tidak membawa arti apa-apa bagi umat; Kegiatan peringatan hari lahir Muhammad SAW (Maulid Nabi) dilaksanakan hanya karena perasaan “tidak enak” kalau tidak dilaksanakan. Kalau hal ini yang terjadi, maka jangankan untuk mendapatkan hikmah, pelaksanaanya pun akan terasa kering dan menjemukan, baik bagi pelaksana kegiatan maupun jama’ahnya, sehingga akhirnya , manfaat yang diharapkan akan susah didapat.

Untuk mencegah agar kegiatan Maulid Nabi tidak terjebak pada suatu rutinitas belaka, kita harus memulainya dari suatu pertanyaan: “Apakah tujuan dalam melaksanakan peringatan Maulid?”. Jawaban dari pertanyaan ini akan memunculkan pertanyaan berikutnya, yaitu “Bagaimana caranya agar tujuan dari peringatan tersebut dapat tercapai?” dan akhirnya “Apa bentuk kegiatannya?”. Dengan metode ini diharapkan akan muncul suatu kegiatan Maulid yang cerdas-kreatif dan kontekstual terhadap permasalahan umat yang terjadi saat ini.

Jawaban dari pertanyaan ”Apa tujuan peringatan Maulid?”, diawali dari persoalan lokal umat yang ada di sekitar kita dengan rincian yang nyata bukan normatif. Misalnya, masalah nyata pada masyarakat sekitar adalah masalah kebodohan maka kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan upaya untuk mencerdaskan umat, atau ketidakpedulian umat maka kegiatannya mengarah pada penumbuhan kesadaran untuk peduli pada umat. Dapat juga, umpamanya yang terjadi pada masyarakat sekitar adalah masalah kekosongan spiritual maka kegiatannya adalah dalam rangka menjawab persoalan itu, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, kegiatan yang dilakukan diupayakan untuk selalu berada pada upaya “problem solving” bagi permasalahan umat sekitar kita.

Peringatan Maulid Nabi, dengan demikian, menjadi suatu kegiatan yang bernas, penuh dengan solusi yang cerdas dan dinamis bagi kemajuan umat manusia seluruhnya, sesuai dengan keinginan Tuhan mengangkat Muhammad sebagai Rasul-Nya yaitu sebagi rahmatan lin ‘alamin , rahmat bagi sekalian alam. Sehingga peringatan Maulid Nabi juga mengapresiasi keinginan Tuhan tersebut.

Akan tetapi, kalau kita mencoba melaksanakan peringatan Maulid Nabi dengan metode seperti di atas, mungkinkah hanya dengan peringatan yang bersifat seremonial belaka. Jawabnya sudah pasti: Tidak. Lalu…, Bagaimana?

Kita harus melakukan perubahan yang paradigmatik dalam menyikapi hari lahir Nabi Muhammad SAW, dari yang hanya “peringatan” menjadi “Gerakan Peringatan Maulid Nabi”, suatu gerakan yang disusun secara sistematis dan terorganisir. Maka dari itu, kegiatan yang berkaitan dengan Maulid Nabi harus dilaksanakan dengan segala daya-upaya bukan dengan “sekedar saja”; yang penting terlaksana. Kita harus meninggalkan kebiasaan “sekedar saja” dalam membangun kejayaan Islam. Dan, dengan demikian, kita sudah melangkah satu langkah ke depan.

Memang untuk taraf awal, kita hanya “sekedar” melaksanakan peringatan Maulid Nabi, tapi akankah kita terus seperti ini?. Kalau ini terus kita lakukan, maka jangan mengeluh melihat kondisi umat yang seperti ini dimana Masjid belum dijadikan sebagai “rumah kedua”, kebodohan dan kemiskinan masih diderita sebagian umat Islam; umat masih merasa jauh dari Tuhannya.

Satu hal lagi, yang tak kurang pentingnya dari peringatan Maulid Nabi adalah bagaimana kita menjadikan momen Maulid sebagai upaya secara sadar untuk “melahirkan” kembali Muhammad SAW. Rasulullah memang telah wafat, tapi yang wafat hanyalah jasadnya, risalah perjuangannya yang telah diinstitusikan dalam “Sunnah Rasul” tidak boleh mati. Jadi, setiap tahun akan selalu “lahir” Muhammad yang dapat membawa pencerahan bagi kita. Kalau dahulu, pada saat Muhammad SAW masih hidup, ketika sahabat beliau ada permasalahan maka akan mudah untuk mendapatkan jawaban karena dapat langsung “curhat” kepada Baginda Rasul. Kalau kita selalu melahirkan kembali Muhammad pada setiap peringatan Maulid Nabi, maka kita pun dapat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para sahabat Rasul zaman dahulu, kendati pun dalam bentuk yang lain, yaitu dengan selalu merujuk pada Sunnahnya.

Hanya saja, permasalahannya sekarang, bagaimana kita dapat menghadirkan kembali Muhammad SAW dalam keseharian kita?, sedangkan kita jarang sekali mempelajari, apalagi menghayati sejarah hidup beliau, yang akhirnya-dapat dikatakan-, kita belum mengenal Muhammad SAW, kononlah lagi akan mencintainya, bahkan akan menghadirkannya dalam setiap peringatan Maulid.

Sedangkan, apabila kita telah mempelajari sejarah Rasul Muhammad, itupun menurut Muhammad Al Ghazaliy belum cukup, sebagaimana termaktub dalam bukunya pada halaman paling terakhir yang berjudul Fiqhus Sirah, yaitu, sebagai berikut:

“Mungkin anda merasa telah mempelajari kehidupan Muhammad Rasul Allah SAW. Bila anda telah mengikuti sejarah hidupnya sejak belau lahir hingga wafat. Itu adalah anggapan yang sangat keliru. Anda tidak akan memahami benar-benar riwayat kehidupan beliau kecuali jika anda telah mempelajari dan memahami isi Al Qur’anul Karim dan Sunnah Suci Rasul Allah SAW.

Seberapa dekat hubungan anda dengan seorang nabi pembawa agama Islam tergantung pada sejauh mana anda memahami dan mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”

******

Selamat ber-Maulid Nabi, semoga kita selalu dalam upaya untuk menjadikan beliau sebagai uswah utama dalam kehidupan ini. Aamiin.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat







Edisi ketujuh

DOSA AWAL

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

K

alau ditanya apa dosa yang pertama kali dilakukan makhluk terhadap Tuhannya dan siapa makhluk Tuhan tersebut? Jawabnya adalah: dosa yang pertama kali terjadi adalah kesombongan dan pelakunya adalah Iblis.
Peristiwa ini diabadikan Tuhan dalam kitab suci Al-Qur’anul Karim, yaitu pada peristiwa penciptaan Adam sebagai khalifah. Ketika itu iblis dan seluruh malaikat diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam. AS. Seluruh malaikat menuruti perintah tersebut kecuali iblis.
Perbuatan iblis tersebut dilakukan karena adanya perasaan lebih baik dan lebih sempurna dari Adam. Merasa diri lebih, menjadikan iblis tidak mau tunduk atas perintah Allah.

Ketidaktundukan Iblis terhadap perintah Allah karena merasa diri lebih sempurna inilah yang sering kita sebut SOMBONG. Akibat dari kesombongannya tersebut Allah menurunkan laknatnya hingga akhir zaman, pada diri Iblis dan segala keturunannya. Padahal sebelum ada perintah untuk tunduk pada Adam, Iblis adalah sosok yang sangat patuh dan tunduk pada Allah, beliau selalu bertasbih dan memuji Allah.
Kesalahan yang dilakukan Iblis tidak membuat dirinya merasa salah, bahkan ia menantang Allah dengan meminta izin kepada Allah agar ia dapat menggoda Adam dan seluruh keturunannya sampai akhir zaman. Iblis dengan segala daya upayanya akan selalu mengajak manusia untuk keluar dari jalan yang lurus; untuk ingkar kepada Allah.

Ia merasa dendam dan iri kepada Adam dan seluruh keturunannya. Perasaan dendam dan iri adalah buah dari rasa sombong. Tidak akan ada dendam dan iri apabila kesobombongan tidak ada.
Ketidakpatuhan iblis terhadap perintah untuk sujud kepada Adam karena Iblis merasa bahwa dirinya yang diciptakan Allah dari api lebih jauh sempurna dibandingkan Adam yang diciptakan dari lumpur yang menjijikan. Artinya Iblis membandingkan dirinya dalam perspektif “materi yang fisikal”. Padahal Allah memerintahkan untuk sujud kepada Adam AS diajarkan dalam terminologi Al-Qur’an “nama-nama” oleh Allah. Hal tersebut menunjukkan bahwa sujud tersebut bukan pada “fisik” Adam yang terbuat dari lumpur, tetapi penghormatan terhadap “nama-nama” yang telah diajarkan kepada Adam ; penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.
Dengan bekal pengetahuan terhadap “nama-nama” itulah, nantinya Adam akan sanggup menjalankan fungsi ke-khalifahannya di muka bumi. Hal inilah yang tidak disadari Iblis karena sifat sombongnya tersebut.
Dengan gambaran realitas yang telah digambarkan Allah dalam Al-Qur’an seperti yang telah diuraikan di atas, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa penghormatan terhadap para pecinta ilmu telah dipertontonkan Allah sejak masa awal sejarah hadirnya makhluk yang bernama manusia.

Mungkin karena inilah maka wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Muhammad SAW berbunyi Iqra’ yang artinya baca; Sebuah kosa kata yang sangat berkaitan dengan hal-hal yang bersifat pengetahuan.
Selain itu perbandingan diri yang dilkakukan iblis kepada Adam dari sudut fisik saja membuat sifat sombong Iblis teraktualkan. Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran berbagai bagi kita, bahwa dalam “memandang” sesama manusia jangan dilihat dari fisiknya belaka, karena dengan ini kita dapat terjerumus dalam dosa kesombongan. Allah sendiri tidak menilai manusia dari fisik dan materi tetapi dari sesuatu yang sangat substansial dari fungsi manusia yaitu ketaqwaan.

Sementara itu, di saat ini, kehidupan yang berideologikan fisik dan materi semakin tubuh subur sampai ke wilayah paling pelosok di dunia ini. Segala sesuatu diukur dari fisik materi saja. Ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Orang yang punya keluasan ilmu pengetahuan dan mempunyai sifat jujur belum tentu memperoleh akses kehidupan dengan mudah, sebaliknya, orang yang tidak jujur tetapi punya kekuatan fisik dan materi akan sangat mudah memperoleh akses kehidupan bahkan difasilitasi.Yang lebih tragis lagi, adalah ketika manusia menjual kedaulatannya dengan harga yang sangat murah-demi materil. Kejadian seperti ini biasa terjadi pada momen pemilu dan sebagainya.

Setidak-tidaknya ada tiga poin penting dari uraian kisah penciptaan khalifah pertama; yaitu:

1. Penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.
Allah akan mengangkat beberapa derajat orang yang berilmu pengetahuan. Ini yang dijanjikan Allah. Oleh sebab itu keinginan untuk menjadi orang yang haus akan ilmu pengetahuan dan terus tanpa henti-henti mengejar ilmu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai orang yang sedang berjihad di jalan Allah. Dan dengan ini pula Islam akan kembali menjadi agama yang berjaya, agama yang Rahmatan lil ‘alamin. Semoga…

2. Merasa diri lebih hebat (sombong)
Perbuatan sombong kalau ditelusuri secara mendalam pada dasarnya muncul karena adanya upaa untuk menutupi kekurangan diri, merasa malu kalau kekurangannya diketahui orang. Selain itu, keinginan untuk selalu dipuji, dapat juga memunculkan kesombongan. Jadi dengan demikian, kesombongan yang kita pertontonkan kepada orang lain adalah upaya untuk menipu diri sendiri dan pelan-pelan memasang jerat ke leher kehidupan kita sehingga pada saatnya kita akan selalu berada pada kehidupan yang semu, kehidupan yang absurd.

3. Kehidupan yang materialistis
Dalam filsafat ada suatu istilah yang berkaitan dengan poin ke 3 ini yaitu “reifikasi”; segala sesuatu yang diukur dengan materi.

Jadi, kalau iblis membandingkan dirinya secara materi kepada Adam, maka ia disebut “Iblis yang reifikatif”
Sedangkan kalau manusia yang menjadikan alat ukur kehidupannya dari sisi materi belaka maka ia disebut “Manusia yang reifikatif”.

Iblis-reifikatif dan manusia-reifkatif adalah identik, kedua-duanya akan membuat kualitas kehidupan manusia semakin jauh dari idealitanya. Tapi kalau kita menjadikan materi bukan sebagai alat ukur tapi “sarana” mudah-mudahan kehidupan ideal akan kita dapatkan, terutama kehidupan di akhirat kelak

Sebagaimana pula halnya dengan sosok Adam yang tubuhnya terdiri dari materi yang berwujud lumpur, bersemayan di dalamnya roh Allah dan kecerdasan ilmu pengetahuan.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat


Minggu, 02 Maret 2008

Edisi Keenam

ANDHIKA

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)


“Dengan mengucapkan Alhamdulillah hirobbil ‘alamin rapat pembentukan panitia kegiatan Tahun Baru Hijrah ditutup. Demikian kata pembawa acara sewaktu menutup rapat, yang telah berlangsung sejak pagi hingga sore dengan waktu istirahat hanya untuk sholat Zhuhur.
Andika dengan wajah sedikit kusut, setelah pamit dengan kawan-kawan, pulang dengan gontai menuju rumah kost yang belum lunas sewanya. Di perjalanan, terbayang olehnya ketika ia menyatakan kesediannya untuk menjadi ketua panitia.

Ia masih mempertanyakan atas keberaniannya menerima amanah tersebut. Apakah mampu ia untuk mengemban amanah yang terasa berat, ketika ia telah berada di luar ruang rapat.

Kadang timbul rasa optimis namun seketika itu juga rasa pesimisnya juga muncul. Namun sekarang ia tidak mau tahu dengan semua itu.
Hatinya telah bertekad, bahwa ia tidak akan mundur, ia tidak akan menarik kembali pernyataan kesediaannya untuk menjadi ketua panitia. Sukses atau tidak itu urusan nanti, demikian ia menguatkan tekadnya.
Sesampainya di rumah (gubug) hari telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Dan tercium bau kurang sedap dari arah dapur. Ternyata itu adalah bau nasi yang sudah 2 hari tidak ia makan, karena memang tidak ada “teman nasi” untuk dimakan. Dengan sedikit menggerutu ia mengamankan “aib dapur anak kost” tersebut.

Dengan perut yang agak melilit, karena memang belum diisi apapun kecuali secangkir kopi dan asap rokok, ia melangkah ke sumur, membasuh muka

untuk mengambil air wudhu. Terasa segar badannya ketika air suci itu menelusuri pori-pori wajahnya. Rasa hausnya terlepas tatkala ia memasukkan air ke mulut untuk “kumur-kumur” dan ditelannya air suci yang belum dimasak itu.

Sajadah dihamparkannya di ruang kamarnya yang pengap, yang penuh dengan hiasan kaligrafi. Ia pusatkan konsentrasinya kepada Yang Maha Agung, Maha Lembut. Ia coba lupakan panitia, ia lupakan perutnya yang keroncongan. Hanya Dia yang coba ia konsentrasikan.

Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah. Disucikan dirinya dari dosa-dosa yang melekat. Dan dengan tenang dia mengagungkan Sang Pemberi ketenangan dan masuk ke alam yang “asing”; dan dimana dia berada bukan pada dirinya, bukan pada alamnya. Tapi pada alam Allah, pada diri Allah Yang Maha memiliki.

Sejuta rasa ia tumpahkan seluruhnya ke Makkah; kiblat utama insan yang merindukan sesuatu yang “asing”; sesuatu yang selalu dirindukannya. Perasaan rindu, kasih cinta semakin dalam terasa ketika ia merendahkan pusat kesombongannya pada yang paling hina dari ke-Andhika-annya.

Perjalanannya semakin jauh menembus relung-relung kenikmatan rohani, semakin dekat kepada pusat kerinduan. Kerinduan yang menciptakan nikmat tiada tara; kenikmatan nur; kenikmatan cahaya mistis. Batinnya melangkah dengan pasti tanpa ada yang akan mampu menghentikan langkahnya.

Sesekali perutnya menggelapkan kenikmatan “cahaya mistis”, ketika sang usus melilit meminta jatah kerja. Hanya spiritual sucilah yang menghentikannya kebinalan usus itu. Dan ia bersyukur bahwa ia diberi kekuatan spiritual suci, hingga perjalanannya tidak terhenti.

Kemudian diselesaikannya perjalanan “aneh” tersebut. Walaupun ia merasa berat untuk menghentikannya, salam dan syukur yang murni dari hati nurani; itulah yang dapat dilakukannya, atas pemberian perjalanan tersebut. Segala Puji bagi-Mu, ya Allah, Engkaulah tuhanku, tuhan dimana aku dapat mengalami kedalaman hati nurani yang selalu merindukanmu.

···········

Kisah di atas menggambarkan sosok orang yang ingin mengabdikan dirinya pada suatu kegiatan yang membawa manfaat bagi sosial dan religi. Akan tetapi ada kendala ekonomi yang dihadapinya, namun demikian diantara beban ekonomis yang

disandangnya tidak menyurutkan tekadnya untuk memikul tanggung jawab sosial yang diamanahkan kepadanya. Keinginan dan dorongan yang kuat untuk berbuat kebaikan baginya merupakan manifestasi dari imannya kepada Allah SWT, yang telah menganjurkan untuk selalu berlomba-lomba berbuat kebaikan. Selain itu, karena kehidupan di dunia ini hanya sementara, maka tidak ada jalan lain agar ia mendapatkan tempat yang layak di akhirat nanti adalah dengan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dalam bentuk apapun.

Adapun kendala-kendala pribadi yang dihadapinya, seperti kemiskinan, memang menghalangi tekad dan niatnya untuk mengabdi kepada Allah, untuk itu ia selalu menguatkan mental spiritualnya melalui ritual-ritual agama. Ia sangat meyakini bahwa apabila hal tersebut dilakukan maka Allah pasti akan meringankan beban dan memberikan kekuatan mental-spiritual, sebagai bekal utama dalam ia melaksanakan kebaikan. Dalam ritus ibadah yang dilaksanakannya tertuanglah segala asa dan harapan yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Segala.

Dengan kekhusyukan yang dibangun tersebut maka tumbuhlah rasa ikhlas yang menjadi senjata pamungkas baginya untuk menghilangkan beban-beban duniawi yang mengganggu kerja-kerja sosial-religius yang sedang dibangunnya.
Baginya hanya yang seperti inilah yang dapat dipersembahkan kepada Tuhannya. Ia memang tidak banyak tahu tentang ilmu agama tapi bukan berarti tidak dapat berbuat untuk agama. Agama baginya adalah kerja bukan hanya bicara, orientasi hidupnya hanya untuk akhirat yang dilandasi dengan kegiatan (amal-sholeh) selama di dunia.
Yang penting baginya bahwa pengetahuan yang minim dan tekanan ekonomi yang dihadapinya bukan berarti tidak dapat berbuat untuk sosial dan agama, orang itu bernama ANDHIKA.

*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat




Edisi Kelima

SYAHADAT

Oleh M. Azam Prihatno Azwar*)

Setiap manusia yang mengaku Muslim, adalah orang yang selalu tunduk dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Segalanya. Hal ini sesuai dengan kehendak syahadat yang senantiasa kita ikrarkan. Ikrar yang kita ucapkan dalam syahadat mengandung beberapa hal, yaitu:

1. Pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan;

2. Muhammad adalah Rasul Allah

Dari pernyataan syahadat tersebut dapat kita analisa beberapa hal sebagai berikut:
“Bahwa untuk bertuhan yang sejati kita harus membunuh Tuhan-tuhan selain Allah”

Pada zaman awal Islam Tuhan-tuhan palsu berbentuk patung-patung yang disembah yang padanya ditempelkan mitos-mitos kehebatan pada patung tersebut. Pada zaman sekarang Tuhan-tuhan palsu tidak lagi hanya berbentuk patung-patung tapi juga berupa paham (isme) yang diyakini dapat membawa kebahagiaan yang hakiki pada diri manusia.

Paham-paham tersebut menjadi Tuhan, apabila paham tersebut diposisikan sebagai sesuatu yang menggantikan kekuasaan Tuhan yang sejati. Untuk mengetahui paham apa saja yang telah menjadi Tuhan-tuhan palsu,

kita dapat memulainya dengan mendalami tentang Tuhan sejati yaitu Allah SWT.

Pendalaman tentang Allah SWT dapat dimulai dari mengenali sifat-sifatnya. Apabila sifat Allah tersebut telah kita pahami maka kita bandingkan dengan dengan sifat paham-paham yang berkembang sekarang. Perbandingan tentang sifat Allah dan sifat paham-paham tersebut inilah yang kemudian dapat menentukan kepribadian muslim yaitu: kalau si muslim tersebut lebih meyakini sifat Allah SWT dengan mengambilnya sebagai pilihan hidup maka jadilah ia sebagai muslim yang sejati, begitu juga sebaliknya.

Dengan cara ini dapat diukur kualitas kemusliman seseorang. Umpamanya kalau diyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagai Yang Maha pemberi rezeki, maka tidak akan terjadi ada orang dalam memperoleh rezeki dilakukan dengan cara-cara yang dilarang olehNya, seperti, dengan cara mencuri, korupsi, berbohong, sogok menyogok dan sebagainya.

Kalau cara tersebut masih dilakukan maka dapat dikatakan keyakinan terhadap Allah SWT sebagai Maha pemberi rezeki belum dimiliki dengan sempurna, atau dengan kata lain ada keraguan terhadap sifat Allah tersebut, dan lebih meyakini paham yang mengajarkan bahwa untuk memperoleh rezeki boleh dilakukan dengan cara-cara yang tidak halal.

Kejadian seperti ini artinya menciptakan Tuhan-tuhan baru selain Allah. Padahal, sesuai dengan keinginan dan konsekuensi dari syahadat bahwa paham seperti ini harus dibunuh karena telah menjadi Tuhan baru. Selanjutnya, setelah sifat Allah SWT kita ketahui dan yakini, maka langkah selanjutnya adalah pendalaman tentang diri Rasul Allah yaitu Muhammad SAW.

Muhammad SAW harus dijadikan suri tauladan bagi setiap muslim. Menjadikan Muhammad SAW sebagai suri tauladan dapat kita lakukan apabila kita mendalami shirah Muhammad, melalui hadits-haditsnya maupun sejarah kehidupannya.
Bagaimana mungkin kita dapat menjadikan Muhammad sebagai tauladan tanpa mengetahui siapa Muhammad SAW tersebut.
Cukup tragis terjadi pada umat Islam, apabila lebih mengetahui sejarah hidup selebritis dibanding Rasulnya, karena memang mereka lebih senang mengenal selebritis tersebut dibanding Muhammad SAW. Bahkan mereka yang dengan sepenuh hati berupaya mencontoh kehidupan Rasul dicemooh dengan berbagai cemoohan.
Pengingkaran terhadap kekuasaan Allah SWT dan tidak mengenal sosok Muhammad SAW menjadikan umat Islam semakin terpuruk dalam kancah peradaban dunia.

Kondisi yang seperti inilah menjadi problem utama umat Islam sekarang ini, sehingga Islam hanya menjadi agama yang sempurna di ajarannya tapi tidak pada umatnya. Keyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna hanya pada kitab suci Al-Qur’an , tidak ditemui pada umatnya.

Maka sangat berbahaya kalau syahadat hanya dapat diucapan tapi tidak diketahui konsekuensi dari syahadat tersebut. Karena itu, memang tepat, dalam rukun Islam syahadat diposisikan pada nomor urut pertama, karena ia adalah pondasi bagi umat Islam. Tidak mungkin bangunan menjadi kuat tanpa pondasi yang kuat; tidak mungkin umat Islam dapat kuat kalau pondasinya (yaitu syahadat) tidak dihayati oleh umat Islam.

Kalau kita menginginkan Islam akan kembali menjadi peradaban besar, seperti yang pernah terjadi di Madinah pada masa Rasulullah dulu, sempurnakanlah syahadat. Jadikan syahadat sebagai tolok ukur pada setiap aktivitas kehidupan.
Mengingat begitu strategisnya fungsi syahadat dan begitu bahayanya apabila syahadat kita sepelekan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mulai memperbaharui syahadat, mendalami maknanya, dan mempelajari konsekuensi-konsekuensi syahadat, kecuali kalau kita memang tidak menginginkan Islam berjaya dan tidak menginginkan selamat dunia dan akhirat!
*) Penulis adalah salah satu pengurus masjid dan masih aktif di lembaga sosial masyarakat